Novena Arwah: Renungan, Doa, Refleksi

MENINGGAL DALAM YESUS KRISTUS

Sumber: Geoffrey Chapman, 1994. Catechism of The Catholic Church. A Cassel Imprint Villiers House, Strand, London.

1. Pendahuluan

Katekismus Gereja Katolik (Chapman, 1994: hal. 229 – Kat. 1005), dengan kutipan dari Surat Paulus (2 Kor 5:8), menjelaskan gambaran kematian dalam Yesus Kristus sebagai: “… beralih dari tubuh ini untuk tinggal menetap didalam Tuhan.” Kematian sebagai peralihan untuk tinggal dalam Yesus Kristus sekaligus dialami oleh manusia sebagai perpisahan jiwa dari tubuhnya (Bdk. Filipi 1:23).” Perpisahan itu kelak akan dipersatukan kembali pada saat kebangkitan orang mati. Disekitar kematian manusia dalam Yesus Kristus itu, Katekismus menegaskan ajaran Gereja tentang Makna Kematian (Chapman, 1994: hal. 229-230 – Kat. 1007-1009):

  • sebagai akhir dari kehidupan duniawi manusia
  • sebagai konsekuensi atau akibat dosa
  • sebagai berkat yang mengubah kematian menjadi penyerahan hidup kepada Allah didalam kematian dan kebangkitan Yesus

Kematian sebagaimana dimaksud di atas lebih spesifik dimaknakan sebagai Kematian Kristiani (Kat.1010-1019). Karena, perpisahan jiwa dari raga atau roh dari badan manusia akan dipersatukan kembali secara istimewa, yaitu: “ Pada saat kebangkitan, Tuhan akan memberikan kehidupan yang tak terbinasakan kepada tubuh kita, yaitu kehidupan yang ditransformasikan dengan jiwa kita. Sama seperti Kristus telah bangkit dan hidup kekal, demikian pula kita semua akan bangkit pada hari kiamat.” (Kat. 1016). Gereja mempercayai bahwa pada saat kebangkitan itu “ … tubuh yang fana ini dibangkitkan dari kubur menjadi tak terbinasakan,” yaitu sebagai sebuah “tubuh rohani” (Kat.1017 bdk. 1 Kor 15:42-44).

Kematian kristiani dialami sebagai akibat atau sebagai konsekuensi dosa, yang membuat manusia mengalami penderitaan kematian tubuh. Tetapi berkat sengsara dan kematian Yesus, yang telah mengalahkan maut, maka terbukalah keselamatan bagi semua manusia.” (Kat. 1018 dan 1019).

Kematian dan misterinya seperti ajaran Gereja tersebut di atas selalu direnungkan dan didoakan oleh umat katolik dalam doa arwah, khususnya doa novena arwah pada bulan Nopember setiap tahun. Pengalaman-pengalaman disekitar kematian diangkat dan diungkap sebagai fokus renungan dan doa, terutama pengalaman kematian saudara, kerabat, teman, orang-tua, siapapun yang pernah berjasa dan telah meninggal, bahkan mereka yang pernah kita sakiti atau yang kepada mereka kita pernah bersalah atau berdosa. Umat merenung untuk “semakin siap akan kematiannya sendiri” dan berdoa bagi keselamatan para arwah itu sesuai tradisi yang diajarkan oleh Gereja selama berabad-abad (Lumen Gentium 49; Kat. 1023, 1014, dan 1032).

Oleh karena itu, berikut ini dicatatkan berbagai ungkapan pengalaman-pengalaman umat katolik yang merenung dan berdoa disekitar misteri kematian dalam doa novena arwah 2008 di Lingkungan Filipus I dan VI, Paroki Roh Kudus, Surabaya. Rekaman ungkapan pengalaman dan renungan berikut ini bersifat tulus dan seadanya. Karena, umat ingin merasakan bahwa kematiannya kelak dan kematian saudara-saudara yang didoakan “ternyata” sangat dekat dan akrab jika dialami dalam “sentuhan kematian serta kebangkitan Yesus.” Ketulusan yang seadanya itu mencerminkan kerinduan umat akan karya kehadiran Yesus yang membimbing kita dan semua saudara yang telah meninggal untuk masuk kedalam kehidupan kekal. Kerinduan itu adalah kerinduan tentang pencerahan hidup surgawi, yang seharusnya sejak saat ini sudah selalu bisa dirasakan. Sehingga, kepergian saudara-saudara yang telah meninggal boleh dipercayai sebagai perjalanan pencerahan itu pula, dan pengalaman pencerahan yang bisa dibagirasakan diantara umat melalui doa-doa novena arwah.

2. Ungkapan Pengalaman tentang Kematian dan Kerinduan Hidup Surgawi

Sejak Hari Pertama dan Hari Kedua doa Novena Arwah, umat merasakan keanehan dengan dirinya “mengapa perlu melakukan doa novena arwah?” Berbagai pengalaman spontan muncul dan menjadi pergulatan renungan pribadi, yang coba menjelaskan jawaban atas pertanyaan aneh itu. Jawaban paling sederhana sempat terlontar adalah ungkapan pengalaman ketika menyesuaikan diri dengan “ritual doa novena,” yaitu: a) ingin merasakan hubungan dengan yang meninggal dalam rangkaian doa, b) ingin coba menggali makna kematian bagi diri sendiri, c) ingin mengetahui apa yang terjadi dengan arwah yang didoakan ketika doa novena dilaksanakan kali ini.

Disamping tiga hal spontan tersebut di atas, pengalaman lain juga diungkapkan, yaitu menyangkut susunan dan ketikan naskah doa novena yang masih dirasakan asing. Sehingga, dalam penyesuaian dirinya membuat satu sama lain merasa canggung. Irama doa yang dilafalkan masih saling kejar-mengejar, sampai terungkap “harapan atau permintan untuk mendoakannya dengan suasana khidmat yang mendukung permenungan.” Tetapi, dengan tiga ungkapan pengalaman spontan diatas dan pengalaman lain-lain selama awal doa novena, umat/peserta pada umumnya ingin merasakan suasana permenungan yang menjalinkan berbagai perasaan disekitar doa novena arwah dengan fokus perasaan bakti kepada Allah. Apa yang terjadi selanjutnya?

2.1. Sambung Rasa. Dalam doa novena arwah kali ditemukan ungkapan “bahwa hubungan perasaan kita dengan mereka yang telah meninggal ternyata masih ada,” walaupun pada awal doa novena itu perasaan umat belum langsung mengalaminya sebagai hubungan baktinya kepada Allah. Hubungan perasaan seperti itu menyangkut hubungan perasaan antara peserta novena kali ini dan arwah “saudara, kerabat, teman, orang-tua, suami atau istri, siapapun yang pernah berjasa dan telah meninggal,” bahkan arwah “mereka yang pernah kita sakiti atau yang kepada mereka kita pernah bersalah atau berdosa.” Hubungan perasaan serupa itu terkadang masih sama seperti perasaan manusiawi semasa mereka hidup, tetapi seringkali pula “rasanya berbeda.” Yang paling dirasakan perbedaannya adalah ungkapan pertanyaan “apakah mereka masih menderita di api penyucian saat ini?” Dan, segudang pertanyaan lain-lain yang mirip dengan atau mengiringi pertanyaan yang satu ini.

Hubungan umat dengan saudaranya yang telah meninggal tersebut di atas terungkap sebagai bentuk “sambung rasa,” yaitu hubungan perasaan manusiawi. Hal itu nampak dalam berbagai ungkapan kenangan manusiawi yang dinyatakan kembali sebagai “cerita kenang-kenangan.” Sedikit demi sedikit kenangan lain yang bernuansa “rohani” juga diungkap, sambil terus-menerus mereka fokus merenungkan naskah doa novena secara lebih detil dan bertanya-tanya: “Apakah doa kita berpengaruh bagi keselamatan jiwa-jiwa mereka?” Hal lain yang sempat mencuat adalah ungkapan rasa salah dan berdosa terhadap saudara kita yang telah meninggal, yaitu kesalahan dan dosa kita terhadap mereka semasa masih hidup dan tinggal bersama kita. Diungkapkan bahwa “saudara-saudara yang sekarang didoakan termasuk menjadi korban dari kesalahan dan dosa kita.” Seberapa besar itu semua menyiksa mereka, sekaligus seberapa sakit penderitaan mereka akibat kesalahan dan dosa mereka sendiri? Bagaimana Allah telah bertindak terhadap mereka dan akan bertindak selanjutnya?

Berbagai perasaan umat tentang mereka yang telah meniggal sempat membuat umat peserta doa novena arwah kali ini merasa tercekam. Sejak awal doa novena, mereka merasakan seperti “terbebani” oleh sesuatu yang belum beres dalam hubungan dengan saudara yang meninggal. Apakah umat mengkhawatirkan keselamatan saudara-saudaranya yang telah meninggal itu? Umat mencari alasan yang mendasar sebagai pegangan untuk melanjutkan keterlibatannya dalam doa novena arwah kali ini. Masihkah kita sempat boleh berjasa bagi para arwah yang kita doakan; dan, Tuhan berkenan mempertimbangkan jasa doa-doa kita? Nampaknya, umat pada awal doa novena arwah ini belum terlalu risau untuk menjawab kegelisahan yang terungkap dibalik pertanyaan yang senada itu semua. Yang penting adalah “lakukan saja doa ini dengan benar dan tulus.”

2.2. Ritual Doa Novena Arwah yang syah dan normatif “benar dan baik”

Doa novena arwah kali ini (2008) menggunakan rangkaian naskah doa yang terbagi tiga bagian: 1) Pembukaan dan Doa Novena Hari Pertama sampai Kesembilan, 2) Doa Rosario Kecil untuk Jiwa-jiwa di Api Penyucian, dan 3) Doa Litani Arwah. Sumber acuan resmi untuk susunan Naskah Doa Novena kali ini dicantumkan juga dalam Naskah itu. Di sela-sela tiga bagian itu dinyanyikan lagu-lagu yang sesuai dengan suasana kematian dan pemakaman. Rangkaian naskah doa kali ini tidak menyertakan bacaan Kitab Suci. Tetapi, di akhir doa novena setiap harinya dilakukan kesempatan berbagi-rasa diantara sesama umat yang hadir. Tidak mustahil berbagai kutipan kitab suci diangkat, termasuk sumber-sumber referensi renungan dari tempat lain (diluar kitab suci) juga dipakai dalam bagi-rasa itu.

Ritual Doa Novena Arwah (sebagai rangkaian doa tersebut di atas) dilaksanakan begitu saja, dan umat nampak merasa nyaman. Tetapi, yang menjadi pertanyaan spontan adalah “cara-cara berdoa yang lain disekitar doa arwah yang dilakukan secara pribadi di tempat lain dan pada kesempatan lain,” misalnya: doa atau intensi misa untuk arwah, doa di makam, doa spontan terkait mimpi tentang saudara yang telah meninggal, misa arwah untuk saudara yang bukan katolik, ritual arwah di agama lain dan didalam masyarakat lokal masing-masing (kristen bukan katolik, islam, tradisi tionghoa, jawa, batak, flores, manado, tradisi suku-suku lain di Indonesia, dan sebagainya). Dibalik itu semua nampaknya umat tetap nyaman untuk melaksanakan doa novena arwah sebagai rangkaian doa seperti tersebut di atas.

Berbagai pemahaman dan praktik doa lain-lain disekitar arwah tidak membuat peserta risau; sebaliknya, mereka terus melaksanakan novenanya kali ini. Ada ungkapan indah dibagi-rasakan seperti berikut ini: “yang penting kita berdoa, dan kita menyadari bahwa yang menyelamatkan saudara-saudara kita (yang telah meninggal itu) bukanlah doa kita (semata-mata), melainkan Allah sendiri yang menyelamatkan.” Lalu, adakah doa kita berpengaruh “membantu” keselamatan yang telah meninggal? Sebagian besar peserta dalam doa novena arwah kali ini meyakini bahwa doa bagi arwah dalam tradisi ajaran Gereja Katolik memang dianjurkan. Umat yang hadir merasakan bahwa hal itu baik untuk dilakukan sebagai tindakan ibadah yang mendukung penghayatan kesalehan hidup kristiani mereka. Di situ mereka mengungkapkan keindahan pengalaman tumbuh-kembang dalam doa dan bakti mereka kepada Allah dengan melintasi ruang/tempat, melampaui kurun-waktu, dan menjangkau keberagaman suku-agama-latarbelakang pribadi banyak orang. Doa arwah mempersatukan pengalaman umat yang masih hidup saat ini dengan kenangan tentang mereka yang telah meninggal, dan semuanya dipersatukan dihadirat Allah yang satu dan sama untuk semua.

Ritual atau upacara dan tatalaksana doa arwah pada umumnya (termasuk novena arwah) tentu saja diatur dalam Liturgi Gereja Katolik. Doa seperti itu sering disebut sebagai doa untuk jiwa-jiwa malang (Prayers for The Poor Souls) yang berada di api penyucian. Dinyatakan dalam sejumlah dokumen ajaran Gereja bahwa “kita dapat membantu jiwa-jiwa malang atau The Poor Souls dengan cara (by means of) prayers, masses, alms, and other good works.” Kutipan ajaran Gereja itu termuat dalam Dokumen Konsili Lyons tahun 1274, Konsili Florence tahun 1439, dan diteguhkan dalam Konsili Trente;” yang secara konsisten menegaskan hakikat dan manfaat membantu arwah yang malang dengan cara doa, misa, tindakan memberi derma, dan lain-lain pelayanan dan pekerjaan yang baik. Tindakan korban yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari juga berguna bagi arwah yang sekarang kita doakan. Penegasan-penegasan normatif dari ajaran Gereja seperti itu secara umum ditaati dan diterima oleh peserta novena sebagai dasar keyakinan mereka dalam melaksanakan doa novena arwah kali ini. Oleh karena itu, peserta nampak tidak terlalu mempersoalkan “keaslian” doa novena arwah, dan tidak juga mempersoalkan manfaatnya. Berdoa kepada Tuhan dalam hubungannya dengan arwah orang yang telah meninggal “memang sepantasnya teratur atau diatur dengan tatanan dan tatalaksana doa yang baku,” agar tidak menimbulkan kecemasan yang menyangkut perasaan “kebablasan” atau “nyasar” atau “klenik dan praktek per-dukun-an.”

2.3. Penegasan Pengalaman akan Makna Kematian untuk Kita dan bagi Yang telah meninggal

Ketika sebuah kematian diperbincangkan, maka macam-ragam refleksi tentangnya bermunculan, yaitu mulai dari masalah cara seseorang meninggal, sebab-musababnya, sampai hakikat serta gambaran ujung akhir sesudah kematian. Tetapi, ketika umat peserta novena mulai masuk ke forum bagi-rasa dalam hari-hari novenanya, maka keluarlah ungkapan:”kematian dan keadaan setelah kematian hanya menjadi jelas dan bermakna bagi kita jika dihayati dalam hubungannya dengan iman kita akan Yesus Kristus.” Ungkapan serupa itu disampaikan dengan nada penuh keyakinan begitu saja, padahal mereka sendiri yang mengatakan dan mendengarnya sama-sama belum mengalami kematian dirinya. Kecuali, mereka mengalami bahwa orang-orang yang didoakan dalam novena kali ini pernah mereka lihat dan saksikan kematiannya sebagai “peristiwa mati dalam damai dan tenang” atau requescat in pace (RIP). Walaupun, disana-sini diantara peserta juga mengalami banyak “cara kematian” yang mengerikan serta terkesan mati percuma, seperti kecelakaan dan meninggal dunia, mati akibat peperangan, mati sebagai korban pembunuhan, dan sebagainya.

Penegasan makna kematian nampaknya dirindukan oleh peserta novena. Penegasan yang diharapkan bukan berupa penjelasan ajaran atau ceramah teologi dan pastoral belaka. Peserta nampak rindu akan penegasan yang berupa pencerahan pengalaman menyangkut hidup rohani mereka serta yang menyentuh pengalaman sehari-hari mereka. Padahal, penegasan yang paling sesuai dengan ajaran Gereja memang harus dikembalikan kepada berbagai rumusan iman Katolik yang telah ada selama berabad-abad. Nampaknya kerinduan-kerinduan serupa itu terungkap lewat bagi-rasa diantara peserta selama hari-hari novena mereka, antara lain:

2.3.a. Makna kematian manusia dan Kematian Yesus Kristus dalam Ajaran Gereja

Mengapa kematian kita kelak, kematian saudara kita yang telah mendahului, dan kematian orang beriman kristiani, semua itu senantiasa dihubungkan dengan kematian Yesus Kristus? Mengapa dan untuk apa Yesus sengsara dan wafat di kayu salib? Berikut ini catatan dokumen Gerejani yang menjawab semua pertanyaan mendasar tersebut:

  • Tuhan tidak membuat kematian, tetapi sebaliknya Tuhan tidak berkenan akan kematian dari mereka yang hidup … Kematian masuk kedalam dunia ini melalui bentuk keserakahan setan (Kat. 413 bdk Kebij 1:13; 2:24).
  • Setan telah mempengaruhi manusia. Dan manusia yang diwakili oleh Adam dan Hawa telah dengan sengaja menyetujui pengaruh setan itu. Dengan kejatuhannya dalam dosa, Adam dan Hawa mewariskan dosa asal kepada semua manusia. Mereka menjadi tunduk kepada kuasa kegelapan, sehingga karena dosanya itu mereka memilih untuk meninggalkan Allah. Dengan begitu mereka kehilangan kesuciannya dan keadilan dihadapan Allah. (Kat. 413-417).
  • Kematian sebagai akibat dosa telah menjadikan manusia tidak berdaya, menjadi korban ketidaktahuan (ignorance), korban penderitaan, dan dikuasai oleh kematian, sehingga manusia seperti itu cenderung untuk terus bergumul dalam kedosaan (Kat. 418).
  • Tetapi, ketidak berdayaan manusia akibat kematian dan dosanya tersebut di atas telah dikalahkan oleh kemenangan Kristus, yang mengatasi maut dalam kematian-Nya serta dengan kebangkitan-Nya dari antara orang-mati (Kat. 419-421). Rahmat Tuhan yang diberikan kepada manusia melalui Yesus Kristus sangat berlimpah (Roma 5:20 bdk Kat. 420).

2.3.b. Pengalaman kematian Yesus bagi iman dan hidup rohani orang Katolik

Peserta novena arwah kali ini nampak kurang tertarik untuk memikirkan catatan ajaran Gereja tersebut di atas. Sebagian merasa “tidak mampu” berdiskusi di tingkat ajaran atau teologi. Sebaliknya, tentang ajaran-ajaran itu mereka menanggapinya dengan ungkapan pengalaman disekitar babtisan yang mereka terima, sakramen ekaristi, dan peristiwa-peristiwa disekitar liturgi paskah.

Dengan baptisan yang mereka terima, peserta novena merasa menjadi orang katolik yang terlibat dalam sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus. Mereka seolah tidak menyangkal bahwa dirinya penuh rahmat penyelamatan, karena Yesus telah menyelamatkan. Baptisan dalam Kristus telah menenggelamkan atau melibatkan mereka dalam peristiwa penebusan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus Kristus. Ungkapan rasa syukur disekitar rumus-rumus iman tersebut seolah telah menjadi bahasa sehari-hari mereka. Termasuk mereka meyakini bahwa saudara-saudara yang telah meninggal dalam Kristus juga memperoleh rahmat penyelamatan. Tetapi, tidak semua mereka itu terbebas dari api penyucian begitu saja, karena diantara mereka ada yang berdosa dan belum sempat bertobat semasa hidupnya.

Darimanakah ungkapan keyakinan iman seperti di atas telah menjiwai umat peserta novena kali ini. Dengan berbagai cara ungkapan, rumus keyakinan iman seperti itu dikatakan berkali-kali sambil mengutip sana-sini rumusan doa-doa novena, doa rosario kecil bagi jiwa-jiwa malang, dan rumus doa litani arwah. Suasana doa novena menjadi semakin hidup, karena masing-masing mencecap dan membagi-rasa pengalaman doa disekitar makna kematian, walaupun sepotong-sepotong.

Ungkapan pengalaman rohani peserta novena seperti dicatat di atas mengerucut kepada rasa-perasaan rohani yang menunjuk kepada “manfaat kematian Yesus: … yang dalam kematian-Nya tidak percuma, tetapi To the benefit of every man, Jesus Christ tasted death (cf Ibrani 2:9). It is truly the Son of God mad man wo died and was buried. (Kat. 629).

Sakramen ekaristi dan penerimaan komuni membuktikan ungkapan pengalaman rohani di atas. Umat selalu teringat betapa nikmat menerima tubuh Kristus, sehingga dapat merasakan betapa rindunya para arwah saudara-saudara yang telah mendahului kita untuk mengalami penerimaan tubuh Kristus yang sama itu. Umat dapat memaklumi jika para arwah itu ada yang tinggal di api penyucian karena dosa mereka, sehingga siksaan yang mereka derita dapat dirasakan sebagai kerinduan akan Yesus, karena kehilangan nikmat persatuan dalam tubuh Kristus.

Doa-doa umat katolik dalam novena arwah diharapkan dapat membantu menyegarkan mata batin para arwah saudara-saudaranya. Kepekaan mata batin mereka (intuitive vision) dapat diasah kembali dengan mendengar doa-doa kita. Berbekal “sambung rasa dengan mereka yang telah meninggal dan didoakan kali ini,” kiranya doa-doa kita dapat mengingatkan mereka akan “panggilan untuk tunduk kepada Allah.” Doa-doa itu diharapkan juga dapat membuat mereka melihat dengan mata batin “bahwa Kristus yang wafat telah turun ke liang kubur, dan Dia telah membuka pintu surga (bahkan) bagi orang-orang benar yang telah meninggal sebelum Yesus itu” (Kat. 636 dan 637).

Sekaligus doa-doa umat katolik itu dan pengalaman disekitar kematian arwah yang masih di api penyucian itu, kiranya dapat menjadi pengalaman berharga dalam hidup rohani kita selanjutnya. Ternyata, panggilan menjadi orang katolik yang tenggelam dalam hidup Yesus mampu menghubungkan kita dengan mereka yang telah meninggal dan merindukan Yesus untuk datang menjemput di hari kiamat. Macam apakah kerinduan para arwah kepada kedatangan Yesus kembali. Apakah kerinduan mereka sama dengan kepercayaan dan dambaan kita untuk mengikuti Yesus sambil berjaga dan waspada agar tidak jatuh dalam dosa selama perjalanan di dunia ini?

3. Api Penyucian dan Indulgensi – Silih bagi yang Meninggal

Pengalaman doa novena kali ini sempat menyentuh bagirasa umat/peserta dengan misteri api penyucian. Sambil bertanya-tanya: “apa yang bisa kita lakukan sebagai silih pembebasan dosa mereka yang kita doakan?” Beberapa diantara peserta saling meneguhkan tentang perlunya melakukan silih dan pertobatan yang mendorong pengampunan bagi yang meninggal. Hasil novena dapat dirasakan seiring dengan tindakan pertobatan kita dan perilaku silih serta pengorbanan yang dapat kita lakukan. Jangan biarkan mereka yang telah meninggal melihat “betapa kita tega membiarkan sesama menderita” atau jangan abaikan Yesus yang tidak menghendaki kita lupa akan sabdanya “Apa yang kamu lakukan kepada orang kecil sekalipun, itu kamu lakukan kepadaKu.” Kiranya yang kita doakan untuk mereka yang meninggal itu memenuhi sabda Yesus. Amatlah luarbiasa, bahkan Yesus dalam kematianNya di liang kubur telah mewartakan kabar Gembira untuk arwah-arwah yang terpenjara di sana (Kat. 632 dan 633 bdk. 1 Petrus 3: 18-19). Bukankah kita berbahagia dalam hidup ini dan kelak dalam kematian akan senantiasa mendengar serta terlibat akan kabar gembira yang sama sampai kedatangan Yesus kembali pada hari kiamat.

Bagaimanakah gambaran api penyucian itu dan indulgensi bagi kita semua? Pada halaman selanjutnya atau berikut ini dicatatkan sebuah kutipan dari Dokumen Opus Sanctorum Angelorum sebagai referensi pribadi kita masing-masing (maaf dalam bahasa Inggris … asli). Semoga kutipan itu dapat direnungkan lebih lanjut. Mungkin itu akan kita perdalam melalui pengalaman bagirasa selanjutnya didalam kesempatan doa arwah tahun depan.

Semoga kita senantiasa diberkati Tuhan. Amin.

T. Soemarman

11 Nopember 2008

3 responses to “Novena Arwah: Renungan, Doa, Refleksi

  1. pius paseru tatamailau

    sebenarnya seseorang yang telah meninggal itu, apa langsung menuju api penyucian atau melalui tahap-tahap tertentu?????

    • Aduuuh tahapan sesudah meninggal itu tidak jelas bagi saya. Andaikan ada tahapan-tahapannya, tentu api penyucian menjadi tempat yang kita perlukan agar kita dapat memandang Allah dengan lebih jernih dan damai sesudahnya.

  2. penjelasan mudah dicerna.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s