Gallery

Perjalanan Keluarga Katolik

Bertumbuh dalam Iman dan Kedewasaan

Forum Refleksi Bersama

Dasar-dasar Hidup Keluarga Katolik pada awalnya berakar pada Sakramen Perkawinan. Karena, dengan sakramen perkawinan itu, pria dan wanita mengikatkan diri dengan janji perkawinan untuk membina kebersaman seluruh hidup; dan mengarahkan hidup kebersamaan itu menuju kesejahteraan suami-istri serta untuk kelahiran anak dan pendidikannya. Kristus mengangkat perjanjian perkawinan itu ke martabat sakramen. (Kanon 1055 § I; cf. GS 48 § I)

Landasan Hidup Keluarga Katolik yang bersifat sakramen tersebut di atas menjadikan Keluarga Katolik seharusnya bertumbuh-kembang dalam Iman dan Kedewasaan seturut rencana keselamatan Allah (Kat. 1602). Pertumbuhan Iman dan Kedewasaan Keluarga itu diberkati dan dibimbing oleh Allah menjadi keluarga yang sehat lahir dan batin (GS 47 § I).

Pertumbuhan Keluarga Katolik dalam Iman dan Kedewasaan merupakan buah-buah cinta kasih suami-istri, yang menyerupai cinta kasih Allah. Bahkan, cinta suami-istri itu menjadi gambaran atau menjadi cerminan cinta Allah kepada manusia (Kat. 1604). Pertumbuhan Keluarga Katolik, oleh karena itu, menjadi wujud karya penciptaan Allah yang memberkati mereka untuk mewujudkan sabda Allah berikut ini: “ Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukanlah itu, berkuasalah …” (Kej 1: 28). Sungguh luarbiasa bahwa pembentukan keluarga katolik seolah disetarakan dengan karya penciptaan Allah. Lagipula, kewenangan yang dipercayakan Allah kepada keluarga itu juga sangat luarbiasa, yaitu menaklukkan bumi dan berkuasa. Keluarga katolik dipercayai untuk mampu menjadi dewasa dan mandiri, dan dipercayai pula untuk memimpin perjalanan hidup kebersamaan yang ada di sana menjadi tumbuh-kembang dalam iman dan dalam kedewasaan kristiani. Perjalanan seperti itu masih panjang dan dipenuhi oleh liku-liku kesulitan dan permasalahan.

Pada Sinode Keuskupan Surabaya tahun 1996 pernah dicanangkan prioritas bidang pastoral, salah satunya adalah pastoral keluarga (Visi-Missi Keuskupan Surabaya 1997-2001). Di sana disebut pentingnya “menanamkan pembentukan nilai-nilai (values) dalam keluarga, seperti misalnya: penghayatan iman bersama, keterbukaan dalam relasi dan komunikasi, kesetiaan, menghormati kehidupan, pendidikan kristiani dalam keluarga, doa bersama dalam keluarga.” Apakah semua itu masih menjadi prioritas untuk masa kini, termasuk di banyak tempat lain-lain? Bagaimanakah semua itu pada saat sekarang telah terkembang dan dihayati oleh Keluarga Katolik dimanapun berada? Bagaimanakah PETA perjalanan umat keluarga katolik?

Peta Tantangan

  • penghayatan iman bersama (penguatan penghayatan iman sesama anggota keluarga, hidup liturgi, penghayatan sakramen-sakramen, pengembangan pribadi dan spiritualitas keluarga)
  • menghormati kehidupan (aborsi, perlakuan adil kesetaraan gender, arus global, sekularisme, konsumerisme, pergaulan dan seksualitas – pornografi-pornoaksi)
  • pendidikan kristiani dalam keluarga (kebiasaan refleksi, penghargaan kepada sumber-sumber pustaka dan pemahaman iman serta tradisi gereja, pendalaman ajaran gereja-moral-hukum kanonik-berbagai praktik hidup religius dan hidup bakti katolik, dukungan keterlibatan dalam jemaat lingkungan-wilayah-paroki, spiritualitas katolik dalam karir dan profesi anggota keluarga)
  • doa bersama dalam keluarga (tatacara dan praktik doa bersama, keseimbangan doa pribadi dan doa bersama, sentuhan affeksi dan relasi pribadi dengan Tuhan yang melimpah dari pengalaman doa, perkembangan kepekaan dalam diskresi hidup rohani atau dalam pembedaan roh serta dinamika rohani, kaitan dengan berbagai tradisi devosi dan lingkaran hidup liturgi gereja)
  • relasi suami-istri-anak (keterbukaan, frekuensi, dan kualitas dalam relasi dan komunikasi; jalinan kasih-sayang dan kerukunan; kesetiaan suami/istri kepada pasangannya; kesediaan berkorban dari suami/istri bagi pasangannya; kecemburuan dari suami/istri terhadap pasangannya, dominasi suami/istri atas pasangannya; sikap dan tindak kekerasan suami/istri terhadap pasangannya dan anak-anak )
  • ekonomi rumah-tangga (kemampuan mengelola-manajemen ekonomi rumah tangga, keterbatasan penghasilan, kesulitan lapangan kerja, beban hutang, kebutuhan sandang dan pangan, biaya kesehatan, biaya pendidikan anak, asuransi hari tua, pengadaan dan perawatan rumah tinggal, biaya sosialisasi lingkungan masyarakat)

Peta Harapan

  • menghayati relasi timbal-balik suami-istri dan orangtua-anak dalam rangka penghayatan hakikat dan praktik sakramen perkawinan
  • Mendidik dan mengasuh anak secara katolik seutuhnya dengan landasan pelayanan yang menghargai pertumbuhan pribadi-rohani
  • Memacu kemandirian keluarga katolik dalam bidang ekonomi rumah-tangga
  • Mewujudkan keluarga katolik sebagai keluarga inti dalam gereja basis, termasuk ikut membangun gereja di Lingkungan-Wilayah-Paroki
  • Terlibat secara dewasa serta sehat dalam kehidupan sosial-kemasyarakatan dengan dilandasi moral dan spiritualitas katolik, dan mewujudkan semua itu melalui praktik-praktik yang diperbarui terus-menerus

Peran Pastoral dan Kepemimpinan Awam Pemuka Jemaat

Tiga hal penting yang perlu dicermati untuk menggambarkan peran pastoral dan kepemimpinan pemuka jemaat dalam rangka mendukung Perjalanan Keluarga Katolik tersebut di atas, yaitu:

a.  Fokus pelayanan (ministry) harus mendarat secara realistis ditingkat konteks keluarga-keluarga katolik sehari-hari. Pelayanan diwujudkan dalam berbagai aktivitas yang langsung terkait dengan tantangan-tantangan nyata (life challenges-related or cases-related). Kegiatan Pastoral Teamwork dan Kepemimpinan Awam Pemuka Jemaat diagendakan bersama umat secara langsung sesuai keadaan aktual-faktual.

b. Metode pelayanan berorientasi kepada “pemusatan bagi mereka yang dilayani” (community-centered ministry or people-based ministry). Mind-set atau mental pelayanan harus tegas berubah menjadi “belajar bersama dan bertumbuh-kembang sebagai sesama teman-sahabat-mitra dalam perjalanan iman serta hidup rohani (peer-based learning and emancipatory). Perjalanan itu hendak mendorong pemuasan kerinduan gereja yang masih berjuang dalam persekutuannya dengan gereja yang telah menang bersama Kristus.

c. Kajian cermat dan dokumentasi yang terus dikembangkan lewat berbagai media komunikasi/bagi-rasa harus dipastikan dan dibakukan untuk mendukung fokus pelayanan dan metode pelayanan tersebut di atas. Banyak hal dari ajaran gereja dan tradisinya kemungkinan menjadi kurang mengena dan kurang updated bagi umat saat ini, karena banyak praksis hidup iman umat dan praksis pastoral tidak mampu saling dibagirasakan, yang salah satunya hal itu terjadi karena atau akibat kelemahan riset, dokumentasi, dan komunikasi.

Peran Pastoral dan Kepemimpinan Awam Pemuka Jemaat bisa saja terlibat dibidang teknis dan masalah-masalah kongkrit-aktual, tetapi “bagaimana peran dan kepemimpinan itu mampu menjaga kemandirian yang semakin dewasa diantara keluarga-keluarga katolik sendiri?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s