Pelangi Kebangkitan

Renungan Paskah 2007 Lingkungan Filipus I, V, dan VI Perum Wiguna, Gereja Roh Kudus,  Surabaya,  5 Mei 2007

“Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit”  (Luk 24: 5-6)  

Lalu, dimanakah Dia dan untuk apa itu semua terjadi, khususnya untuk Umat Lingkungan Filipus I, V, dan VI tahun 2007 dan tahun-tahun yang akan datang?

Peristiwa Paskah atau Kebangkitan Tuhan Yesus melibatkan sejumlah kejadian penting:

1.       Fakta Historis dan Transcendental. Maria Magdalena (dan murid-murid lainnya) mendapati bahwa kubur tempat Yesus dimakamkan telah kosong. Penginjil Yohanes mewartakan bahwa “Pada hari pertama Minggu itu, pagi-pagi  benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur  (Yoh 20:1)” Di situ Maria berjumpa dua malaikat yang mengatakan: “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit  (Luk 24: 5-6 bdk. Yoh 20:13) “  Selanjutnya, Yesus menampakkan DiriNya kepada Maria, sehingga “Maria berpaling dan berkata kepadaNya ….Rabuni, artinya Guru (Yoh 20: 15-16).

Kejadian makam Yesus yang telah kosong, perjumpaan Maria dengan Yesus di sana, dan selanjutnya peristiwa yang dialami Petrus dan Yohanes dimakam yang kosong, semua itu merupa-kan tahapan awal dari pengakuan iman mengenai kebangkitan Yesus (Luk 24: 3, 12, 22-23 bdk Joh 20: 2, 6, 8). Makam Yesus yang kosong memang belum seutuhnya membuktikan kebangkitanNya. Tetapi kejadian itu bersama rangkaian peristiwa lain-lain disekitar Yesus sesudah makam kosong itu menunjukkan bahwa kebangkitan Yesus sekali-gus merupakan peristiwa histo-ris atau sejarah dan peristiwa transcendental (yang mengatasi ruang-waktu). Sehingga, tentang kebangkitan Yesus harus dimaknakan secara utuh mulai dari sengsaraNya, kematian, makam kosong, dan macam-macam penampakkanNya. Peristiwa kebangkitan menjadi  bagian dari rangkaian sejarah hidup Yesus (historis), yang sekaligus menjadi peristiwa kehadiranNya yang unik dan abadi (transcenden) sejak Paskah KebangkitanNya itu.

2.  Penampakan Pertama dan Pewartaan Kebangkitan. Kejadian lain disekitar kebangkitan Yesus adalah penampakkanNya perta-makali sebagaimana dialami oleh Maria Magdalena dengan makna khusus (Mark 16:1; Luk 24:1; Joh 19:31, 42). Penampakan itu merupakan kehadiran Yesus secara unik-abadi, yang serentak mengi-ngatkan Maria akan Rabuni – Yesus sang Guru yang dikenalnya semasa hidupNya. Sekaligus, bertolak dari peristiwa itu pula, Maria tergerak-terpanggil untuk bergegas menjadi pewarta tentang kebangkitan Yesus, karena ia mewartakannya untuk pertamakali kepada para murid Yesus yang lain (Luk 24: 9-10; Mat 28: 9-10; Yoh 20:11-18). Pengalaman Maria akan kebangkitan Yesus dan PenampakanNya sekaligus menjadi peng-alaman pewartaan. Apa yang Maria alami tidak membuatnya terdiam tetapi  ia mewartakannya kepada mereka yang “pernah kehilangan Yesus” dan kepada mereka “yang masih rindu akan Dia.”

Selanjutnya, penampakan Yesus berturut-turut terjadi dihadapan Petrus dan sebelas murid lainnya. Bahkan ditengah-tengah rangkaian penampakkan itu, Petrus dipanggil Yesus untuk meneguhkan iman saudara-saudaranya (1 Kor 15:5; Luk 22: 31-32). Karena kesaksian Petrus itu pula, maka komunitas murid-murid Yesus  menyatakan peneguhan iman diantara sesama pengikut Yesus: “Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon “ (Luk 24: 34, 36).

3.       Panggilan membangun Gereja Perdana. Peristiwa Kebangkitan Yesus juga melibatkan murid-muridNya agar menjawab pang-gilan, yaitu “untuk mengasihiNya dan menggembalakan domba-dombaNya”  (Yoh 21: 1-17) dan “mengikutiNya” (Yoh 21: 19). Petrus dan sebelas rasul atau murid-murid lainnya mengalami kebangkitan Yesus sebagai peristiwa keterlibatan mereka dalam pembentukan gereja purba atau gereja perdana. Kepemimpinan komunitas kristiani pada awal mula dipercayakan oleh Yesus kepada mereka. Sementara itu, pengikut Yesus yang bertumbuh bersama gereja perdana itu juga mengalami kehadiran Yesus kembali, yaitu Yesus yang sama seperti yang pernah mereka kenal selama itu, dan kini hadir kembali ditengah-tengah mereka dengan kemuliaanNya (Mat 28: 9, 16-17; Luk 24: 15, 36; Yoh 20: 14, 17, 19, 26; 21: 4). PenampakanNya ditengah para pengikutNya menegaskan bahwa kehadiranNya kembali bukan untuk dunia pada umumnya tetapi bagi mereka yang telah bersamaNya selama ini sejak di Jerusalem dan yang menjadi saksi kebangkitanNya bagi banyak orang (Kis 13: 31; cf. Yoh 14: 22).

4.       Karya besar Allah Tritunggal Mahakudus. Kebangkitan Yesus merupakan sebuah karya besar yang melibatkan Allah Tritunggal Ma-hakudus (Rom 1: 3-4; cf. Kis 2: 24). Ketika Allah Bapa membangkitkan Kristus PuteraNya, di situ Allah Bapa melibatkan kuasaNya kedalam kemanusiaan Yesus; selanjutnya mengubah kemanusiaan itu untuk masuk kembali kepada kemuliaan Tritunggal Allah Mahakudus. Kuasa Allah dalam karya Roh Kudus telah menghidupkan Yesus dari mati dan mengangkatNya kepada (keabadian) keAllahan (Cf. Rom 6: 4; 2 Kor 13: 4; Fil 3: 10; Ef 1: 19-22; Ibr 7:16).

Makna Keselamatan yang diberikan oleh Kebangkitan Yesus dimengerti sebagai berikut:

1.       Kebenaran dan Ajaran Iman. Kebangkitan Yesus mengesahkan kebenaran karya dan ajaranNya selama ini. Sehingga, janji-janji dari perjanjian lama dan janjiNya semasa hidup terpenuhi dalam kenyataan kematian dan kebangkitanNya (Mat 28: 6; Kark 16: 7; Luk 24: 6-7, 26-27, 44-48; cf. 1 Kor 15: 3-4). Dari situ tercermin sifat Keillahian Yesus yang bersinar dari peristiwa kebangkitanNya (Yoh 8: 28-29 bdk Maz 2: 7 dan Kis 13: 32-33); yaitu, sifat keillahian yang diwujudkan dalam penjelmaanNya sebagai Putera Allah dan dalam pemenuhanNya sesuai rencana Allah.

2.       Penghapusan Dosa dan Pembuka Pintu Hidup Baru. Misteri Paskah atau Kebangkitan Yesus memuat dua aspek penting, yaitu: dengan kematianNya, Kristus telah membebaskan manusia dari dosa; dan dengan kebangkitanNya, Dia telah membuka jalan kepada suatu kehidupan baru bagi manusia (Rom 6: 4; cf. 4: 25). Sehigga, manusia juga menerima berkat untuk menga-tasi kematian akibat dosa, dan, sekaligus berpartisipasi dalam rahmat Allah (Cf. Ef 2: 4-5; 1 Petr 1: 13). Dengan itu semua, umat yang beriman kepadaNya boleh menjadi saudara Yesus secara utuh (Mat 28: 10; Yoh 20: 17) atau mengalami persaudaraan kekal denganNya berkat rahmat Allah, yang memungkinkan manusia berbagi kehidupan Yesus Putera Allah.

3.       Harapan Hidup Kekal. Kebangkitan Yesus menjadi harapan akan kebangkitan manusia di masa datang (1 Kor 15: 20-22). Umat yang beriman kepadaNya merindukan harapan itu. Sehingga, harapan itu seharusnya mewarnai hidup umat saat ini agar tidak hidup untuk diri mereka sendiri, tetapi hidup bagiNya yang akan membangkitkan manusia (2 Kor 5: 15; cf. Kol 3: 1-3). Oleh karena itu, ukuran atau standar sukses pencapaian hidup kristiani harus berakar secara  mendalam di sekitar harapan hidup kekal itu. Segala sesuatu yang dimiliki di sini dan yang dikerjakan di dunia ini dijiwai oleh kerinduan untuk mempersembahkan sesuatu yang paling berharga kepada Yesus dalam kehidupan kekal kelak.

Lalu, dimanakah Dia dan untuk apa itu semua terjadi, khususnya untuk Umat Lingkungan Filipus I, V, dan VI  di tahun 2007 dan yang akan datang?

1.       Yang pertama, ketika umat beriman hendak ikut menyelami misteri paskah, mereka harus memiliki disposisi batin atau keadaan siap-hidup rohani seperti para murid menjelang saat-saat sengsara dan kematian Yesus. Pelangi hidupnya harus diuji “apakah memiliki warna khusus, seperti Maria Magdalena atau murid-murid lainnya?” Bahkan pelangi itu ditelusur ulang dari kehidupannya selama ini. Warna hidup macam apakah yang menonjol berpengaruh sampai saat ini? Adakah warna pelangi itu punya nama atau profil-peranan yang unik disekitar peristiwa sengsara, kematian, dan kebangkitan Yesus?

2.       Yang kedua, nama dari warna pelangi hidup atau profil-peranan umat selanjutnya dicermati dengan melihat perbandingan antara gambar Yesus (Tuhan Yesus sebagaimana digambarkan) dan gambar diri sendiri. Apa yang terjadi dalam hubungan timbal-balik dua gambar diri itu?

3.       Yang ketiga, perlu kiranya umat mencermati pasang-surut warna hidupnya selama ini dengan membuat perbandingan antara semangat hidup Yesus (yang diyakini selama ini) dan semangat hidup umat sehari-hari saat ini; apakah sesuai atau bertentangan satu sama lain? Bagaimanakah konflik atau pertentangan itu diatasi dengan semangat paskah?

4.       Yang terakhir, pelangi umat direnungkan dalam kebersamaan komunitas di lingkungan. Apakah kebersamaan umat selama ini telah terkembang seperti gereja purba/perdana yang senantiasa berkumpul dan berdoa disekitar perjamuan? Dalam kebersamaan itu seharusnya terkembang  pula panggilan-panggilan unik sesuai warna pelangi umat masing-masing. Yang satu saling mewartakan rahasia kebangkitan Tuhan Yesus baginya dan bagi sesama-nya yang lain.

Mengiringi renungan pelangi ke-bangkitan umat Lingkungan Filipus I, V, dan VI tersebut di atas, saat ini telah dibagikan telur paskah yang sederhana untuk masing-masing umat. Oleh karena sebuah telur melambangkan kelahiran seekor anak unggas, maka umat Filipus tersebut di atas hendak menggali makna kelahiran kembali imannya berdasar pengalaman rahasia paskah tahun 2007 dan tahun-tahun yang akan datang untuk dirinya dan untuk kebersamaan umat semua. Apakah setiap hari dalam kegiatan kita dapat menelurkan warna kebangkitan baru terus menerus?

Tes warna pelangi sebagai bentuk mawas-diri dapat dipakai untuk titik tolak renungan. Masing-masing umat akan menyimpulkan warna paling menonjol untuk dirinya. Tetapi, ketika melakukan pemilihan warna menonjol itu, umat tidak serta-merta harus menerima apa yang ada, tetapi boleh saja memilih apa mau jadinya. Antara apa yang ada dan apa jadinya perlu diperjelas dengan alasan pilihannya. Semakin alasan pilihan itu mendekati kerinduan untuk mengalami misteri paskah – kebangkitan Yesus, maka warna pelangi akan menjadi semangat hidup rohani yang menjiwai panggilan pembabtisannya.

Notes

Sumber renungan:

Geoffrey Chapman. 1994. Cathechism of The Catholic Church. A Cassel imprint Villiers House, London.

Ice breaker games warna Pelangi dari:

Gary Kroehnert. 2004. 102 Extra Training Games. The McGraw-Hill Book Company, NSW, Australia.  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s