Menyambut Natal 2008

Happy Community

Happy Community

Keluarga Katolik: Bertumbuh dalam Iman dan Kedewasaan

Renungan Adven 2008 Minggu Pertama

Sabtu 7 Desember 2008 – Empat Tipe Pertobatan

Lukas 3: 1-17 dan Galatia 3: 11-17

Sebelum Yesus datang dan dibabtis di sungai Jordan, sekelompok orang telah menerima babtisan lebih dahulu dari Yohanes Pemandi. Tetapi mereka tidak tahu harus berbuat apa sesudah babtisan itu. Mereka tidak tahu bagaimana bersikap dan bertindak dalam pertobatan yang dinyatakan lewat babtisan mereka. Sementara itu Yohanes memberikan gambaran tentang Allah yang berkuasa atau Allah yang telah siap bertindak sesuatu kepada mereka seperti yang diserukannya kepada mereka: “Siapakah yang mengatakan kepada kamu supaya melarikan diri dari murka yang akan datang? Jadi hasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan” (Lukas 3: 7-8).

Selanjutnya Yohanes menegaskan “Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, akan ditebang dan dibuang ke dalam api” (Lukas 3: 9). Kepada orang banyak itu Yohanes memberi petunjuk agar mereka melakukan hal-hal yang baik sebagai buah pertobatan. Yohanes juga memberitahukan kepada mereka bahwa dirinya bukan Mesias seperti yang mereka harapkan. Tetapi Mesias itu akan datang dan akan membabtis mereka dengan Roh Kudus dan dengan api (Lukas 3: 16).

Peristiwa babtisan banyak orang dan peran Yohanes Pemandi tersebut di atas mempunyai kaitan erat dengan kedatangan Yesus. Dengan babtisan yang diberikan oleh Yohanes saja mereka disadarkan untuk bersikap dan bertindak yang sesuai dengan pertobatan. Dengan babtisan seperti itu mereka dituntut untuk menghasilkan buah-buah pertobatan. Mereka diminta berbuat baik sebagai tanda bahwa mereka sudah dibabtis (Lukas 3: 11-14) dan diharapkan siap menerima babtisan dari Yesus dengan kuasa Roh Kudus dan dengan api (Lukas 3: 16-17).

Bagaimanakah perbuatan baik sebagai buah pertobatan telah dilakukan oleh keluarga katolik? Bukankah mereka telah menerima babtisan dari Yesus Kristus, bahkan mereka telah dibentuk menjadi keluarga katolik dengan sakramen perkawinan? Tentu saja perbuatan baik keluarga katolik diharapkan memiliki kualitas yang jauh lebih sempurna dibanding perbuatan baik yang digambarkan oleh Yohanes Pemandi kepada umatnya pada waktu itu. Perbuatan baik yang menjadi buah pertobatan keluarga katolik diharapkan lebih sempurna, karena bukan sekedar dilakukan dengan alasan “takut akan peradilan Allah atau murka Allah” semata. Kualitas perbuatan baik dari keluarga katolik diwujudkan dalam tindakan sehari-hari dengan kesadaran penuh akan kehadiran Yesus ditengah hidup mereka. Keluarga katolik berbuat baik, karena Yesus hidup bersama mereka.

Tetapi, apakah pada kenyataannya kualitas perbuatan baik keluarga katolik memang istimewa? Apakah perbuatan baik menjadi wujud keutamaan yang telah dianugerahkan kepada mereka? Apakah bedanya dibanding dengan perbuatan baik orang-orang lain di tengah masyarakat pada umumnya?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas perlu direnungkan dalam kaitannya dengan arti pertobatan. Karena, jika perbuatan baik yang menjadi buah pertobatan dianggap penting, maka kualitas pertobatan juga menjadi masalah renungan yang penting, bahkan menjadi masalah hidup sehari-hari yang serius pula. Apakah bertobat hanya untuk bersih-bersih diri? Apakah perbuatan baik dapat dilakukan begitu saja tanpa kaitan dengan proses tobat atau tindakan pertobatan? Kiranya renungan keluarga katolik di masa adven tahun 2008 perlu mencari model pertobatan dan perbuatan baik yang integral, yaitu pertobatan dan perbuatan baik yang dapat dihayati secara utuh-terpadu. Apakah keluarga katolik saat ini memiliki kerinduan untuk itu?

Pada kenyataan hidup sehari-hari terdapat pengalaman keluarga katolik yang beragam menyangkut pengalaman pertobatan dan perbuatan baik. Keberagaman itu dapat dicatatkan di sini sebagai rekaman dari berbagai kesempatan bagi-rasa di lingkungan-lingkungan Keluarga Katolik. Keberagamannya dapat digambarkan dengan tingkatan-tingkatan tipe sederhana sebagai berikut:

Tipe pertama adalah keluarga katolik yang dalam perjalanan hidupnya mengalami kekeringan hidup rohani dan hampa makna. Keluarga seperti itu bergumul dalam berbagai kesulitan dan kesuksesan hidupnya yang seolah berjalan dengan kekuatannya sendiri. Label katolik disandangnya, tetapi kesulitan dan sukses yang dialami tak jauh berbeda dibanding orang kebanyakan. Tak ada kata tobat yang bergema. Yang ada di sana adalah kamus gagal atau berhasil. Bahkan, kamus “mengadu nasib atau untung-untungan” sangat sering dipakai di sana. Perhitungan untung-rugi, menghindari sakit dan mencari nikmat atau hedonisme, dan tergila-gila kepada azas manfaat semata-mata, semua itu menjadi orkestrasi-musik kehidupan sehari-hari.

Cara bersikap, cara bertindak, dan cara hidup dari sebagian keluarga katolik seperti tipe pertama ini menjadi lebur seperti bentuk atau pola hidup masyarakat konsumtif atau konsumeristis, dan seperti masyarakat masakini yang seolah lupa Tuhan. Perbuatan baik bagi tipe pertama ini adalah perbuatan yang membuat mereka aman dengan dirinya sendiri. Perbuatan baik hanya dipahami sebagai tindakan-tindakan untuk mengatasi kesulitan, bangkit dari kegagalan, dan mempertahankan serta melipatgandakan sukses dirinya sendiri terus-menerus. Tipe pertama ini mungkin bukan keluarga katolik yang malas atau ceroboh. Bisa jadi tipe itu melahirkan anggota keluarga katolik yang rajin dan pekerja kerjas. Tetapi, yang kurang di sana adalah melakukan pertobatan sebagai sebuah sakramen penyucian hidup dan menyatukannya dengan hidup Yesus melalui sakramen-sakramen lain.

Tipe kedua adalah keluarga katolik yang pernah atau sering berusaha bertobat dan berupaya berbuat baik, tapi merasa belum berhasil. Untuk bangkit dari keterpurukan dosa dan cacat-cacat pribadi dirasakan masih berat. Oleh berbagai alasan, pertobatan dan perbuatan baik menjadi tertunda terus-menerus. Tetapi pada sebagian keluarga katolik seperti ini telah muncul kerinduan untuk “kembali ke jalur hidup iman dan rohani.” Namun, gambaran hidup iman dan hidup rohani macam apa yang hendak dipertegas dalam pilihan hidupnya ke depan, seringkali tidak jelas. Mengapa kabur dan tidak tegas kembali ke jalur? Jawabannya adalah “seringkali tidak tahu dan/atau terkadang tidak mau kendati sudah tahu.”

Salah satu alasan kekaburan untuk kembali ke jalurnya pada tipe kedua keluarga katolik di atas adalah kekaburan yang disebabkan oleh sikap ragu dan kecenderungan suam-suam kuku dalam mengelola hidup dirinya dan keluarganya. Kompromi dan keraguan menjadi warna hidup kekatolikannya sehari-hari. Alasannya? Banyak tekanan dan godaan dari hidup sehari-hari. Di sisi lain, hidup iman dan kedewasaan rohaninya belum sempat digambarkannya, atau mungkin belum pernah dirindukannya. Kecuali, label katolik dijalankan sesuai aturan yang pernah dikenalnya atau didengarnya. Lagipula, semakin lama semua itu luntur bersamaan dengan arus deras tawaran-tawaran godaan hidup sehari-hari. Nurani katoliknya tidak terkembang. Rutinitas ibadat atau liturgi dijalani tanpa mendarat kepada sentuhan batin dan dinamika kedalaman hidup. Ditambah lagi layanan iman dari pihak-pihak yang bertanggungjawab untuk membantu pembinaannya bahkan mentah atau tidak tertangkap dengan baik.

Tipe ketiga adalah keluarga katolik yang tekun berdoa dan sibuk-aktif dalam kegiatan umat dilingkungannya sampai paroki. Siklus hidup liturgi, berbagai ritual, sejumlah ajaran gereja, macam-macam keteladan hidup para kudus, dan macam-macam kebiasaan serta tradisi hidup menggereja, semua yang sejenis itu ditekuni dan dijalani dengan bersemangat. Keluarga katolik seperti itu dalam hidupnya sehari-hari mengalami kesulitan dan sukses secara seimbang. Masing-masing anggotanya dalam keluarga katolik seperti itu terbiasa melihat manfaat ditengah kesulitan. Mereka juga mampu mengukir harapan ditengah kegalauan dan kesusahan. Puji syukur dilantunkan ketika rejeki dan berkah melimpah. Sukses tidak membuat keluarga ini takabur, sombong, atau lupa diri dan lupa daratan. Berderma dan mengasihi sesama mungkin sesekali dilakukan. Kolekta dan persembahan juga ditepati. Dan, masih banyak hal baik dilakukan sebagai orang katolik. Tapi, keluarga katolik tipe ketiga ini merasa menjadi umat yang masih belum maksimal dalam menjiwai kekatolikannya. Alasannya, mereka merasa sekadar menjadi umat yang mesti patuh kepada Gereja. Apa yang diberikan oleh Gereja dan apa yang tersedia di sana diambilnya dan dijadikan pegangan hidup. Walaupun pengalaman hidup iman dan rohani yang ada nampaknya tak mampu mereka jelaskan. Karena semuanya diberikan, tersedia, dan bisa serta biasa diambilnya. Pengalaman perjumpaan pribadi dengan Allah dan semua orang kudus dikemas dalam ibadat dan ritual.

Tipe ketiga keluarga katolik tersebut di atas mampu menjawab semua persoalan hidupnya dengan berpegang kepada ajaran Gereja dan berbagai macam tradisi rohani yang sempat dicerna dan diyakini selama ini. Hal-hal baru yang dihadapi cenderung “harus ditanyakan dulu kepada yang berwenang.” Jika hal-hal baru itu menyangkut pilihan cara hidup katolik yang “lebih radikal” dibanding yang saat itu sedang mereka hayati, maka mereka menjadi guncang sampai “yang berwenang” menenangkan mereka. Jika mereka harus bertobat, maka alasan tobat pun cenderung dialaskan pada kelaziman yang sudah berjalan selama ini. Jika mereka berbuat baik, maka landasan pemicu perbuatan baiknya adalah karena merasa dirinya sebagai orang katolik. Alasan itu semacam keterlanjuran sudah menjadi katolik. Lagipula, banyak orang lain dan saudara-saudaranya mengakui mereka sebagai orang katolik yang seharusnya memang berbuat baik.

Tipe keempat adalah sebuah model keluarga katolik yang mengambil teladan pertobatan Santo Paulus sebagai landasan tobat dan perbuatan baik mereka. Paulus mengalami pewahyuan atau pembukaan diri Allah (Yesus) kepadanya dan yang membuatnya menjadi bertobat mengikuti Yesus serta memberitakan injil (Galatia 1: 12 dan 16). Pengalaman Paulus dalam menerima Yesus seperti yang dikisahkan dalam riwayat hidupnya ternyata mampu mengubah total hidupnya. Paulus memberitakan injil diantara orang-orang bukan Yahudi dengan keberanian yang luarbiasa (Galatia 1: 14-16). Bahkan ia harus menanggung akibat dari pewartaannya itu untuk menjalani hidup dipenjara karena injil yang diwartakannya. Pribadi Paulus diubah total oleh pewahyuan Tuhan kepadanya, sehingga sejak itu pula hidupnya menjadi satu dengan hidup Tuhan Yesus. Pertobatan dan perbuatan baik yang dilakukan Paulus adalah model penyerahan hidup yang merelakan dirinya untuk dipakai oleh Allah dalam mewartakan injilNya. Perbuatan baik itu berupa pewartaan, yaitu menjadikan hidup ini sebagai warta gembira yang sama seperti hidup dalam keselamatan yang telah diterimanya dari Tuhan Yesus.

Tipe keempat keluarga katolik mengalami pertobatan dan dorongan berbuat baik sebagai bagian utuh dari proses dirinya menerima pewahyuan Allah kepada setiap anggota dari keluarga katolik. Ditengah keluarga itu dan didalam perjalanan hidupnya sehari-hari mereka mengalami Tuhan Yesus bersama mereka. Pengalaman akan kehadiran Yesus sangat menguasai mereka, sehingga keluarga ini cenderung semakin terbuka untuk menerima pengaruh Yesus dalam hidup mereka. Hidupnya menjadi tegas dan tegar dalam menghadapi berbagai situasi dan keadaan. Hidupnya disediakan bagi pewartaan tentang Tuhan yang melawati umatNya. Pengorbanan atau penjara tidak membuat mereka gentar. Sebaliknya, ditengah berbagai kesulitan apapun mereka justru bermegah dan bersyukur, karena Tuhan menyatakan dirinya (mewahyukan) kepada keluarga katolik ini. Hidup mereka terbuka untuk semakin “dirasuki” oleh kehadiran Tuhan Yesus sama seperti yang dialami oleh Paulus.

Oleh karena itu, pertobatan dan perbuatan baik bagi keluarga katolik tipe keempat dapat menjadi model bagi persiapan menyambut kedatangan Yesus kembali, yaitu kedatangan pada peringatan kelahiranNya di masa natal maupun kedatanganNya kembali di akhir jaman. Dalam menyongsong hari depannya, keluarga katolik seperti itu terbuka untuk dipengaruhi oleh Roh Kudus dan api cinta Kristus secara terus-menerus. Hidupnya bukan sekedar dibersihkan untuk siap menerima Yesus, tetapi hidupnya disediakan untuk dipakai olehNya menjadi pembersih yang menyucikan segala perbuatannya dan menyucikan pula hubungan dengan sesamanya. Pertobatan dan perbuatan baiknya menjadi jalan bagi Tuhan yang hendak menyatakan diriNya (mewahyukan dan merasuki) kepada semua orang. Hanya dengan cara itu manusia diselamatkan.


Keluarga Katolik : Bertumbuh dalam Iman dan Kedewasaan

Renungan Adven 2008 Minggu Kedua

Kamis 11 Desember 2008 – Suka-duka Keluarga Katolik

Yohanes 15: 1-17 dan Efesus 5: 22-33 (bdk: Efesus 4: 17-19)

Sejak minggu pertama adven, umat keluarga katolik telah merenungkan pertobatan dan perbuatan baik sebagai buah pertobatan. Hidup keluarga katolik diyakini menjadi tempat Yesus menyatakan DiriNya kepada setiap anggota keluarga katolik itu. Menyatakan Diri berarti mewahyukan atau memberikan hidupNya secara khusus kepada setiap orang didalam keluarga katolik itu. Pertobatan dan perbuatan baik masing-masing anggota keluarga diarahkan atau disediakan untuk menjadi jalan penebusan bagi orang-orang disekitar mereka.

Dalam bagi-rasa dan tukar pengalaman di minggu kedua adven 2008, umat keluarga katolik mengungkapkan suka-dukanya satu sama lain, terutama suka-duka sebagai keluarga katolik dalam menjalani masa persiapan natal kali ini. Kerinduan untuk menjadikan keluarga katolik sebagai jalan penebusan seperti yang dirasakan pada renungan adven minggu pertama ternyata mengalami banyak kendala didalam kehidupan intern keluarga masing-masing. Berikut ini rekaman bagi-rasa dan renungan minggu kedua adven yang menjelaskan tantangan-tantangan berat yang dihadapi:

§ Relasi suami-istri-anak mengalami kerancuan dan kesenjangan dalam hal: keterbukaan hubungan antar pribadi yang kaku dan kurang peduli; frekuensi dan kualitas relasi/komunikasi yang merosot oleh karena berbagai sebab dan alasan; jalinan kasih-sayang dan kerukunan yang tidak semakin kokoh; kesetiaan suami/istri kepada pasangannya yang mengalami banyak ujian; kesediaan berkorban dari suami/istri bagi pasangannya yang kurang nyata; kecemburuan dari suami/istri terhadap pasangannya semakin tidak berasalasan, dominasi suami/istri atas pasangannya yang tidak menghargai martabat sebagai sesama sahabat; sikap dan tindak kekerasan suami/istri terhadap pasangannya dan anak-anak yang tidak mencerminkan kelembutan cinta-kasih kristiani;

§ doa bersama yang semakin tidak mudah untuk disepakati dan dilaksanakan dalam kehidupan keluarga katolik sehari-hari, yaitu: tatacara dan praktik doa bersama yang tidak terkembang dengan baik di keluarga, keseimbangan antara doa pribadi dan doa bersama yang tidak jelas, sentuhan affeksi dan relasi pribadi dengan Tuhan yang kering dan menjadi terpisah dari pengalaman doa, ketiadaan perkembangan kepekaan dalam diskresi hidup rohani atau dalam pembedaan roh serta dinamika rohani, semakin tidak mengerti atau kurang memahami keterkaitan hidup rohani pribadi dan keluarga dalam hubungannya dengan berbagai tradisi devosi dan lingkaran hidup liturgi gereja;

§ ekonomi rumah-tangga menjadi semakin tidak menentu, khususnya kemampuan mengelola-manajemen ekonomi rumah tangga yang semakin tidak berdaya karena situasi ekonomi yang semakin sulit, keterbatasan penghasilan, kesulitan lapangan kerja, beban hutang, pemenuhan kebutuhan sandang dan pangan yang semakin sulit, biaya kesehatan yang semakin mahal, biaya pendidikan anak yang tidak memiliki sumber dana cukup, asuransi hari tua yang tidak menentu, pengadaan dan perawatan rumah tinggal yang masih serba terbatas, biaya sosialisasi lingkungan masyarakat yang semakin aneh-aneh dan mahal.

Dan masih banyak hal-hal lain yang “cukup pusing” untuk dipikirkan atau direnungkan oleh keluarga katolik. Apalagi jika permenungan dan penyelesaian persoalannya dilakukan sendiri-sendiri. Sehingga, masing-masing anggota keluarga katolik didalam keluarganya sendiri berjalan sendiri-sendiri dan menjadi semakin asing satu sama lain. Persoalan-persoalan lain yang “cukup memusingkan” itu meliputi:

ú penghayatan iman bersama (penguatan penghayatan iman sesama anggota keluarga, hidup liturgi, penghayatan sakramen-sakramen, pengembangan pribadi dan spiritualitas keluarga)

ú menghormati kehidupan (masalah kehamilan diluar kehendak dan masalah aborsi, perlakuan adil kesetaraan gender, arus global, sekularisme, konsumerisme, pergaulan bebas dan seksualitas – pornografi-pornoaksi)

ú pendidikan kristiani dalam keluarga (kebiasaan refleksi, penghargaan kepada sumber-sumber pustaka dan pemahaman iman serta tradisi gereja, pendalaman ajaran gereja-moral-hukum kanonik-berbagai praktik hidup religius dan hidup bakti katolik, dukungan keterlibatan dalam jemaat lingkungan-wilayah-paroki, spiritualitas katolik dalam karir dan profesi anggota keluarga)

Keluarga katolik nampaknya membutuhkan motivasi iman yang kuat agar mampu menghadapi banyak hal yang memusingkan tersebut di atas. Dari rekaman bagi rasa dan tukar pengalaman selama renungan adven minggu kedua terungkap bahwa umat keluarga katolik merindukan pengalaman “sentuhan campur tangan Tuhan.” Pengalaman serupa itu perlu dicermati agar perjalanan keluarga katolik tetap fokus ke arah penyambutan kedatangan Yesus di hari natal dan penyambutan kedatanganNya kembali di akhir jaman. Pengalaman serupa itu perlu juga diperdalam dan diperkokoh dengan akar-akar pengalaman iman yang jernih.

Tidak ada alasan apapun yang bisa menjadikan keluarga katolik tercerai-berai atau menjadi berantakan. Karena dengan babtisan yang diterima oleh masing-masing anggota keluarga katolik, mereka dipersatukan dalam hidup Yesus dalam pokok anggur yang benar (Yohanes 15: 1-5). Persatuan suami-istri dan anak-anak dalam keluarga dikokohkan oleh Yesus sebagai panggilan untuk saling mengasihi (Yohanes 15: 12). Masing-masing anggota keluarga itu dipilih dan ditetapkan oleh Yesus untuk hidup bersatu denganNya dan menghasilkan buah atau perbuatan baik yang menyejahterakan keluarga (Yohanes 15: 16). Persatuan seperti itu mewujudkan persekutuan murid-murid Yesus didalam komunitas kecil keluarga katolik. Dengan menghasilkan buah banyak sebagai murid-muridNya maka persekutuan komunitas itu sekaligus memuliakan Allah Bapa (Yohanes 15: 8). Keluarga katolik seharusnya tidak pernah berantakan, tetapi justru sebaliknya menghasilkan buah banyak bagi keluarga sendiri dan bagi sesama disekitarnya.

Mengapa pada kenyataannya goyangan dan benturan hidup ini justru meresahkan keluarga katolik? Jawabannya sangat sederhana tetapi sangat berat untuk dipulihkan, yaitu “karena daya cinta yang saling mengasihi telah menjadi lemah” atau tidak kokoh. Padahal masing-masing anggota keluarga katolik telah ditebus dengan cinta Yesus yang sangat kuat dan penuh daya, yaitu Dia telah “menyerahkan hidupNya bagi sahabat-sahabatNya” (Yohanes 15: 13). Keresahan tanpa-daya yang dialami oleh keluarga katolik nampaknya disebabkan oleh melemahnya pengalaman persahabatan pribadi mereka dengan Yesus. Seharusnya masing-masing anggota keluarga sangat akrab bersahabat dengan Yesus. Bermodal pengalaman persahabatan pribadi seperti itu, maka masing-masing anggota dapat semakin mampu untuk saling mengasihi dan menghasilkan buah banyak atau perbuatan baik. Jika semua itu terjadi, maka keluarga katolik tak perlu cemas akan kekurangan apapun. Sebaliknya, mereka justru selalu mampu menatap kedepan dengan penuh kepastian, karena “apa yang kamu minta atau kamu kehendaki akan diberikan” (Yohanes 15: 7 dan 16). Tetapi untuk itu ada syarat yang harus dipenuhi “Kasihilah seorang akan yang lain (Yohanes 15:17).

Santo Paulus dalam suratnya kepada Jemaat di Efesus juga memberikan penegasan bahwa “penyerahan diri Yesus bagi jemaat telah mendatangkan rahmat pengudusan” (Efesus 5: 25-26). Cinta suami-istri dalam keluarga katolik dikokohkan oleh Yesus untuk mengalami pengudusan itu dan menjadi jemaat yang tidak bercela (Efesus 5: 27). Yang harus dilakukan oleh keluarga katolik dalam persiapan natal dan untuk penyambutan Yesus di akhir jaman adalah “memulihkan daya cinta kasih Yesus dalam kehidupan keluarga sehari-hari.” Paulus menasihati dengan tegas dan jelas agar umatnya meninggalkan cara hidup lama dan kini menjadi manusia baru sebagai berikut: “Sebab itu kukatakan dan kutegaskan kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuannya dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka. Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran” (Efesus 4: 17-19).

Dasar-dasar hidup suami-istri dalam keluarga katolik harus diperkokoh dengan kasih Kristus. Di situ model Kristus yang mengasihi umatNya harus diwujudkan menjadi cinta kasih suami-istri dan anak-anak yang saling mengasihi. Model kasih Kristus itu menyarankan agar satu sama lain dari anggota keluarga saling mengorbankan diri untuk membantu satu sama lain, sehingga masing-masing anggota semakin bersahabat dengan Yesus dan menjadi kokoh-kuat di tengah-tengah perubahan jaman yang semakin dahsyat saat ini. Jika keluarga katolik masih tersendat-sendat untuk bertobat atau masih tercabik-cabik untuk berbuat baik, maka keadaan itu tidak boleh membuat mereka berhenti memohon rahmat pengudusan dari Yesus terus-menerus. Mohonlah pula kesempatan untuk mengalami secara mendalam persahabatan pribadi denganNya. Mohonlah kekuatan untuk saling mengasihi di dalam keluarga katolik. Bagaimanakah persahabatan pribadi dengan Yesus dapat berpengaruh terhadap hubungan saling mengasihi dalam keluarga? Daya hidup dan penggerak kebangkitan iman macam apakah yang bisa diperkokoh di sana? Jawabannya terdapat pada refleksi yang mencermati kembali tantangan-tantangan tersebut di atas sambil merenungkannya menurut variasi kedalaman cinta persahabatan dengan Yesus pribadi. Amin.


Keluarga Katolik : Bertumbuh dalam Iman dan Kedewasaan

Renungan Adven 2008 Minggu Ketiga

Kamis 18 Desember 2008 – Pertobatan dan Perbuatan Baik Keluarga Katolik di Lingkungannya dan di Masyarakat sekitar

Yohanes 17: 1-26 dan 1 Korintus 12: 12-31

Sejak minggu pertama adven 2008, umat keluarga katolik merenungkan pertobatan dan perbuatan baik sebagai orang katolik. Masing-masing anggota keluarga diajak untuk mengarahkan dan menyediakan tindakan tobat serta perbuatan baiknya sebagai tanda bahwa mereka adalah murid-murid Yesus. Mereka menggambarkan dirinya menjadi empat tipe keluarga katolik (dalam tobat dan perbuatan baik), yaitu dari tipe yang sangat terpuruk sampai ke tipe yang utuh-total meneladan hidup Yesus.

Saat berbagi-rasa dan tukar pengalaman di minggu kedua adven 2008, umat keluarga katolik mengungkapkan suka-dukanya satu sama lain, terutama menyangkut kerinduannya untuk menjadikan keluarga katolik sebagai jalan penebusan bagi anggota keluarga satu sama lain. Pertumbuhan pengalaman masing-masing anggota keluarga dalam persahabatan pribadi dengan Yesus diharapkan dapat memberi daya pulih untuk “saling mengasihi” didalam keluarga. Pertumbuhan saling mengasihi itu diharapkan juga dapat memperkokoh keluarga katolik ketika menjalani kehidupan dan tantangan yang ada, antara lain:

§ Relasi (hubungan personal) suami-istri-anak yang mengalami kerancuan dan kesenjangan

§ Doa bersama yang semakin tidak mudah untuk disepakati dan sukar dilaksanakan dalam kehidupan keluarga katolik sehari-hari

§ Ekonomi rumah-tangga yang menjadi semakin tidak menentu dalam krisis ekonomi negara dan dunia saat ini

§ Dan masih banyak hal-hal lain yang “cukup pusing” untuk dipikirkan atau direnungkan oleh keluarga katolik, antara lain: penghayatan iman bersama, menghormati kehidupan, dan pendidikan kristiani dalam keluarga

Pada renungan dan bagi-rasa pengalaman iman minggu ketiga adven 2008, umat keluarga katolik menengok keterlibatannya di Lingkungan sekitarnya. Apakah tobat dan perbuatan baik selama ini telah menjelmakan buah-buah berharga bagi umat lingkungan serta lingkungan masyarakat sekitar? Pengaruh macam apakah yang dihasilkan oleh keluarga katolik sebagai “jemaat Kristus atau gereja yang bersatu dalam tubuh Kristus” terhadap lingkugan umat katolik yang lebih luas dan masyarakat sekitar? Apakah keterlibatannya di lingkungan, di paroki, dan di masyarakat sekitar biasa-biasa saja, atau tidak ada bedanya dalam setiap persiapan natal dan dalam persiapan penyambutan kedatangan Yesus kembali sampai akhir jaman?

Rekaman bagi-rasa dan renungan bersama menunjukkan bahwa masing-masing kita sebagai “anggota dalam tubuh Kristus” tidak cukup hanya menyadari tempat masing-masing, sekadar memuaskan kebutuhan satu sama lain, dan sekadar memberi kesempatan untuk menunjukkan peranan masing-masing didalam hidup bersama. Aneh rasanya jika kebersamaan dihayati sekadarnya, layaknya bagian-bagian atau organ-organ tubuh atau organ tumbuh-tumbuhan yang secara organik bersatu dan menghasilkan buah begitu saja. Seolah semua berjalan otomatis, sehingga daya tumbuh yang ada di sana tidak dicermati dan tidak dihayati secara mendalam. Apakah semuanya harus berjalan secara sistematik, serba teratur atau asal teratur atau serasi. Apapun namanya itu semua, perjalanan hidup keluarga keluarga katolik tentu tidak sekadar jalan di tempat tanpa menyadari kekuatan kasih yang memberi daya hidup di sana.

Ketika membaca dan merenungkan nasihat Santo Paulus dalam suratnya kepada Jemaat Korintus (1 Kor 12: 12-31) umat keluarga katolik tersentak: “Keutuhan, kekompakan, dan kesatuan keluarga harus menjadi dorongan untuk menjadikan siapapun semakin giat berlomba harta rohani.” Paulus mengatakan: “Jadi berusahalah untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama. Dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi” (1 Kor 12: 31 bdk 1 Kor 13: 1-13), yaitu setiap orang tanpa kecuali diminta untuk hidup dalam Kasih. Hal itu dikatakan Paulus setelah beliau membicarakan kesatuan dan persatuan hidup jemaat sebagai satu tubuh didalam Kristus seperti yang disampaikannya kepada jemaat Korintus di atas.

Pengaruh kasih macam apakah yang hidup diantara keluarga katolik di lingkungan dan di masyarakat sekitar menjelang natal 2008 dan seterusnya sampai kedatangan Yesus kembali di akhir jaman? Kali ini gambaran kasih yang seharusnya berpengaruh dari keluarga katolik untuk lingkungannya dan masyarakat sekitar diarahkan kepada renungan kasih yang maha dahsyat sebagaimana dirasakan oleh Yesus dalam doa-Nya untuk murid-murid-Nya (Yohanes 17: 20-26). Keluarga katolik tidak hanya boleh bangga menerima kasih Kristus yang mempersatukan mereka satu sama lain dan mempersatukan mereka dengan Bapa-Nya di surga (Yohanes 17: 1-20), tetapi membagikan daya kasih itu kepada siapapun mereka bersaksi atau kepada siapapun yang disentuh oleh kasih kristiani keluarga katolik. Jadi, seharusnya daya rohani doa Yesus itu melimpah kemanapun dan dimanapun atau dalam peran apapun yang melibatkan keluarga katolik untuk melakukan pertobatan dan perbuatan baik dilingkungannya dan di masyarakat sekitar. Lalu, daya rohani doa Yesus macam apakah itu?

Renungan kutipan injil Yohanes di atas perlu dijiwai kembali di masa persiapan natal 2008 dan di masa penantian kedatangan Yesus kembali di akhir jaman. Daya rohani doa Yesus itu telah mengubah kenyataan hidup keluarga katolik menjadi perjalanan dalam satu nafas kehidupan Yesus. Perjalanan keluarga katolik dilingkungannya dan dimasyarakat sekitar seharusnya diarahkan menjadi hidup menuju ke kehidupan kekal seperti diungkapkan Yesus dalam doaNya: “Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau. Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya. Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” (Yohanes 17: 1-3). Daya rohani itu telah menjadikan keluarga katolik “sama seperti Yesus” yang utuh bersatu dengan Allah Bapa. Keluarga katolik seharusnya rela untuk lahir dan hidup hina-dina sampai di kayu salib, dan mati bersama Yesus selama-lamanya. Karena dalam perjalanan hidup seperti itu keluarga katolik telah menjalani hidup kekal sejak saat dibabtis dan sepanjang hidupnya, artinya:

§ Hidup keluarga katolik adalah milik Allah, yang harus disyukuri dan dipersembahkan kembali kepada Allah Bapa melalui persembahan Yesus (Yohanes 17: 6-11).

§ Menyerahkan hidup ini sepenuhnya kepada pemeliharaan Allah dengan menghayati hidup Yesus sepenuhnya (Yohanes 17: 12-14)

§ Menghayati pertobatan total untuk dikuduskan oleh Allah Bapa melalui Yesus Kristus (Yohanes 17: 15-17)

§ Menyediakan diri untuk diutus sebagai berkat pengudusan di dunia sekitarnya (lingkungan, masyarakat, kegaitan studi, dan pekerjaan) dengan kekuatan kasih (Yohanes 17: 20-23)

§ Merasakan bahwa dalam segala hal selalu bersatu dengan Yesus dan dengan gembira memandangi kemuliaan Yesus yang telah diberikan (disediakan senantiasa) oleh Allah Bapa untuk mereka juga (Yohanes 17: 24-26).

Dalam kemiskinan, kekurangan, kesakitan, ketidakberdayaan apapun keluarga katolik berbagi suasana daya rohani dari doa Yesus tersebut di atas. Apalagi jika keluarga katolik memiliki harta kekayaan, kesehatan, kesuksesan, dan semua yang megah dan mewah sekalipun tidak luput untuk tunduk kearah hidup kekal yang diberikan dan dijanjikan Yesus seperti diungkapkan dalam doa-Nya yang dahsyat itu. Apalah artinya memiliki segalanya jika kehilangan kedahsyatan daya rohani doa Yesus itu, yaitu doa dan kasih-Nya. Betapa indah dan nyaman hidup didalam kasih Bapa dan dalam persatuan dengan Yesus dan Roh Kudus sepanjang masa. Apa yang terjadi pada umat keluarga katolik jika suasana daya rohani dari doa Yesus itu merasuki kehidupan sehari-hari mereka?


Keluarga Katolik : Bertumbuh dalam Iman dan Kedewasaan

Renungan Adven 2008 Minggu Keempat

Sabtu 20 Desember 2008 – Menjadi sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna

Matius 5: 43-48 dan Galatia 6: 2-11

Masa penantian umat keluarga katolik nampaknya sedang mencari bentuk seperti digambarkan dalam rekaman bagi-rasa dan renungan pada minggu pertama sampai minggu ketiga. Tobat dan berbuat baik merupakan konsekuensi babtisan sebagai murid-murid Yesus. Buah pertobatan dan kebaikan diwujudkan dalam kehidupan keluarga yang saling mengasihi satu sama lain di masing-masing keluarga inti katolik. Saling mengasihi itu dilakukan karena masing-masing anggota keluarga menyadari panggilannya untuk mendorong satu sama lain dalam mengembangkan persahabatan-nya pribadi masing-masing dengan Yesus. Selanjutnya, buah pertobatan dan kebaikan juga ditularkan ke lingkungan dan masyarakat sekitar yang lebih luas. Agar dengan berbagi dan menularkan itu Yesus yang mengasihi dapat dirasakan oleh semua orang. Keselamatan dan penebusan disebarluaskan agar semua merasakan keagungan kerajaan Allah. Masa penantian menuju natal dan penyambutan kedatangan Yesus kembali pada akhir jaman harus diisi dengan latihan-latihan rohani melalui pertobatan dan perbuatan baik dalam hidupnya sendiri, dalam keluarga, lingkungan, dan masyarakat sekitar. Selalu saja muncul pertanyaan: Apa ukuran sukses dalam latihan-latihan rohani di masa penantian seperti itu?

Ukuran sukses penantian natal dan kedatangan Yesus di akhir jaman, pada bagi-rasa dan renungan adven keempat kali ini, digambarkan sebagai ‘hidup sempurna tanpa cacat dihadapan Allah.’ Jika gambaran sukses dalam masa penantian kedatangan Yesus di hari natal dan di akhir jaman diukur dengan standar kesempurnaan seperti Allah Bapa di sorga sempurna adanya, maka yang dimaksudkan di situ adalah pemenuhan dan perwujudan sabda Yesus dalam “khotbah di bukit” untuk kehidupan umat keluarga katolik sehari-hari (Matius pasal 5-7). Namun, paparan khotbah itu tidak boleh dipahami sebagai aturan yang beku dan kaku. Paparan khotbah itu juga tidak boleh dilonggarkan begitu saja. Tidak longgar dan tidak ketat, sementara itu suam-suam kuku atau sekedar hangat saja juga tidak boleh. Gambaran menjadi keluarga katolik yang rindu akan Yesus di hari natal dan di akhir jaman harus diwujudkan menjadi gambaran totalitas hidup umat keluarga katolik dalam menghayati perjalanan panggilannya menjadi murid-murid Yesus.

Pengalaman hidup miskin, duka cita, lemah-lembut, lapar dan haus, murah hati, suci hati, pendamai atau pembawa damai, teraniaya oleh sebab kebenaran, dianiaya-dicela –difitnah karena Yesus, semua pengalaman itu dalam masa penantian natal dan akhir jaman harus dihayati sebagai pengalaman rohani yang total atau menyeluruh (Matius 5: 3-12). Didalam pengalaman seperti itu kehadiran dan keterlibatan Yesus disambut dengan penuh keterbukaan agar hidup umat keluarga katolik diwarnai, dipengaruhi, dijiwai dan diberkati oleh cinta kasih Yesus. Kehadiran dan keterlibatan Yesus dalam hidup keluarga katolik tidak terjadi otomatis, tetapi keluarga katolik harus memulainya terus-menerus dan berusaha tanpa henti. Jangan biarkan hidupmu hambar seperti garam yang kehilangan rasanya. Yesus sendiri menegaskan “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Matius 5: 15). Kerelaan atau kesediaan umat keluarga katolik untuk mengalami butir-butir pengalaman rohani dari khotbah di bukit itu akan menghasilkan daya rohani cinta kasih Yesus, yaitu “umat keluarga katolik memiliki kehangatan hidup yang dapat memberi terang kepada siapapun disekitarnya.” Daya terang itu akan mampu menghalau kegelapan perjalanan hidup ini. Didalam kehangatan dan terang kristiani itu Yesus hadir dan terlibat, dan umat keluarga katolik selalu tanggap dan menyambut. Yesus menjadi pemenuhan yang menggenapi semua hal dari hukum taurat (Matius 5: 17-20). Kehangatan daya rohani kehadiran dan keterlibatan Yesus yang disambut oleh umat keluarga katolik akan nampak dalam beberapa keutamaan dan gejala persekutuan batin-rohani dengan Allah di sorga sebagai berikut:

  • Umat menjadi pembawa damai, yang jauh dari pembunuhan dan kemarahan (Matius 5: 21-26)
  • Hidup menjadi suci, yang jauh dari dosa percabulan atau kemunafikan (Matius 5: 27-30)
  • Orang menjadi jujur dan lugas (jika ya katakan ya dan jika tidak katakan tidak), yang menjadi jauh atau bebas dari kepalsuan atau tipu daya (Matius 5: 38-42)
  • Bahkan umat keluarga katolik mengampuni dan mencintai musuhnya (Matius 5: 43-48).

Umat keluarga katolik dituntut oleh totalitas atau keutuhan dan kesungguhan tobat dan perbuatan baik tersebut di atas. Tentu saja mereka menjalani masa penantian natal dan penyambutan kedatangan Yesus kembali di akhir jaman dengan sedikit ragu bercampur bingung. Macam apa pula hidup untuk memenuhi tuntutan seperti itu? Bukankah jaman sekarang ini segala sesuatu bisa di atur atau bilamana perlu bisa dibeli atau diperdayai? Sikap dan kecenderungan seperti itu menjadi racun yang membahayakan. Santo Paulus dalam suratnya kepada umat Galatia mengatakan: “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah” (Galatia 6: 9). Racun kehidupan, godaan dan percobaan ada disekitar hidup umat keluarga katolik. Paulus menganjurkan agar setiap orang menjaga diri sendiri dan saling tolong menolong di tengah-tengah situasi yang membahayakan iman itu (Galatia 6: 2-8). Gambaran kesempurnaan seperti Allah Bapa yang di sorga adalah sempurna merupakan arahan dan dukungan yang seharusnya memberikan daya tarik kuat bagi umat keluarga katolik untuk terus berjalan menuju ke hidup kekal. Ada sedikit patokan atau norma umum yang diberikan oleh Paulus, yaitu “selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman” (Galatia 6: 10). Kesempatan yang dimaksud di situ adalah keadaan kita dengan semampu kita, yang sekaligus dengan keadaan yang seadanya kita tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengalami persahabatan dengan Yesus dalam kebersamaan dan dalam cinta kasih kepada sesama kita. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s