KEMATIAN KRISTIANI: Persiapan yang membahagiakan dalam pengalaman Liturgi dan Doa

Gereja mendorong umatnya agar senantiasa berani mempersiapkan diri menyongsong kematian (Chapman, 1014) sebagaimana didaraskan dalam doa Litani Para Kudus:” Dari kematian kekal, bebaskanlah kami.” Dalam doa Salam Maria, kita juga meminta Bunda Yesus untuk mendoakan kita sebagai pendosa yang memohon kerahiman Allah untuk waktu sekarang sampai saat kematian kita. Dalam Bacaan “Imitatio Christi” atau “Imititation of Christ” bahkan dengan tegas ditunjukkan bahwa “ jika kita tidak siap menghadapi kematian sekarang, maka kelak kita juga tidak pernah akan bersedia menyongsong kematian itu dengan cara mempersiapkan diri bersih dari dosa dan mengarahkan segala pikiran serta tindakan kepada apa yang terjadi disaat kematian kekal itu (Imitatio Christi I, 23, I).

Jika kematian bagi umat beriman (kristiani) bukanlah akhir dari segalanya, melainkan kehidupan yang diubah agar mengalami kehidupan kekal, maka persiapan yang dilakukan untuk saat itu adalah persiapan masuk kedalam perubahan “dari hidup yang fana kepada hidup abadi” (Chapman, 1008-1011). Jauh sebelum kematian itu sendiri tiba atau menjelang, umat diharapkan telah bertumbuh dalam semangat perubahan yang mengarah kepada kesiapan berpindah dari yang fana kepada keabadiaan. Semangat perubahan harus menjiwai hidup kristiani kita, terutama dengan meninggalkan segala sesuatu yang “sia-sia” atau fana, menjauhkan diri dari “yang bersifat sementara” atau instan belaka, mengekang diri dari nafsu dan keserakahan, yang selalu memuaskan diri untuk pemuasan hidup sesaat saja.

Dalam semangat perubahan tersebut di atas, umat beriman boleh belajar untuk mengalami kembali panggilannya menurut dimensi “hidup eskatologis.” Yaitu, menghayati hidup kristianinya sekarang dengan penjiwaan dan perilaku hidup kekal di surga bersama Yesus yang telah bangkit dan hidup abadi bersama Bapa. Kita masih boleh memiliki apa saja, tapi tidak perlu menguasainya, apalagi terkuasai. Yang diperlukan bukan sekedar kemandirian terhadap apa yang kita miliki, lebih dari itu kita perlu menjadi mampu memberi makna terhadap segala sesuatu yang dipercayakan kepada kita. Panggilan kristiani sepanjang hidup sampai memasuki saat perubahan atau kematian dan sesudahnya harus semakin menyerupai “perubahan Tuhan Yesus” yang menderita di salib dan wafat, kemudian bangkit serta naik ke Surga dalam kesempurnaanNya.

Mengapa umat beriman menjadi siap atau berani menyongsong kematiannya? Dari pengalaman hidup doa atau liturgi, kita mendapatkan paling sedikit dua jawaban atas pertanyaan itu:

  1. Kematian yang dimohonkan dan bukan “terpaksa diterima” akan menghasilkan berkat yang melimpah dengan kegembiraan abadi
  2. Dibalik tabir kematian, kita akan menemukan fakta bahwa Tuhan ternyata penuh kasih karena tidak menghendaki kematian manusia. Tuhan justru hendak mewujudkan janjiNya, yaitu “memulihkan kehi-dupan kekal manusia yang telah dirampas oleh dosa menjadi kehidupan fana yang dibayangi oleh kematian seram-menakutkan.”

Yang pertama, kesadaran akan datangnya kematian seharusnya mengingatkan umat beriman bahwa “waktunya tidak panjang, melainkan sangat singkat untuk memperoleh pemenuhan hidup” (Eccl 12:1. 7). Hidup didunia dengan proses kelahiran, masa belajar, merintis dan meraih kesuksesan, sampai saat ajal, seluruhnya berjalan sangat cepat. Hal itu ditandai oleh kejadian demi kejadian dimana kita seringkali lupa atau mengabaikan peran Allah didalam perjalanan hidup itu. Fokus kita seringkali sempit, karena hanya menghadapi apa yang terjadi disekitar kita saat demi saat, tetapi sangat jarang menyelami makna dinamis kehidupan abadi dibalik peristiwa sehari-hari. Padahal, makna dinamis itu amat nyata hadir sebagai kasih Allah yang memeluk kita setiap saat dengan cinta yang utuh dan total seperti diwujudkan dalam kematian dan kebangkitan Yesus.

Manusia dalam hidupnya sehari-hari terlalu terbiasa “puas” dengan lingkungan disekitarnya. Kita bahkan cenderung mencari kepuasan itu dan memastikan jaminan rasa aman diri sendiri. Ketidakpastian dihindari, kekurangan dan kepapaan tidak dihayati dengan tegar, kesepian dan keterasingan diganti oleh hingar-bingar kepalsuan dan oleh penipuan diri serta perselingkuhan. Dibalik semua itu kesungguhan untuk mencari Tuhan, menemukanNya, dan mengalami KasihNya justru tidak pernah dikelola menjadi warna hidup umat beriman, menjadi penghayatan panggilan yang tegas dan bermakna. Akibatnya, kesadaran akan datangnya kematian lebih dialami sebagai “waktunya hampir habis” untuk berpuas-puas dengan lingkungan hidup disekitarnya itu. Sehingga, manusia menjadi takut kehilangan semua yang fana itu. Ketakutan akan yang fana itu seringkali mencekam sampai ia tidak merasakan bahwa sepanjang hidupnya lebih banyak melupakan “usaha mendekat kepada Allah.” Padahal, seharusnya kehilangan perasaan akan Allah atau kehilangan kerinduan akan Allah merupakan akar ketakutan yang dahsyat. Terpisah dari Allah merupakan petaka, tetapi mengapa manusia justru terbuai untuk memeluk kepuasan dunia sekitarnya?

Kiranya, manusia tidak boleh terlambat untuk kembali memohon perasaan akan Allah atau kerinduan kepadaNya. Jika sepanjang hidupnya manusia berkali-kali meminta pemenuhan rejeki serta kesehatan, dan Allah selalu menyediakan serta memenuhinya, maka tentang perasaan akan Allah atau kerinduan kepadaNya seharusnya juga dimohonkan terus-menerus. Terutama, memohon perasaan dan kerinduan akan Tuhan itu sebagai “persiapan kematian.”

Permohonan untuk memiliki perasaan dan kerinduan akan Tuhan harus menjadi kebiasaan dan kegiatan rutin terus-menerus. Agar Allah mengabulkannya terus-menerus pula. Permohonan seperti itu akan maksimal terjadi jika dialami dalam doa yang menyatukan diri kita atau menggabungkan diri kita dengan mereka yang telah menang dan hidup bersama Kristus. Dalam doa Litani Para Kudus, kita dapat mengalami hal itu. Perasaan akan Allah dan kerinduan kepadaNya justru akan dialami dalam persekutuan dengan Para Kudus atau Santo-santa yang memuji Allah sepanjang masa. Perasaan akan Allah dan kerinduan kepadaNya menjadi sempurna terbentuk dalam hidup panggilan kristiani jika semua itu disatukan dalam panggilan komunitas atau panggilan gereja, baik yang masih mengembara di dunia maupun gereja yang telah menang (para kudus dan umat beriman yang telah berpulang mendahului kita). Bagaimanakah jika semua itu sangat sulit kita rasakan kembali, terutama jika kita justru merasa “kehabisan waktu, karena umur semakin senja dan kemampuan semakin renta?”

Salah satu kesempatan yang seharusnya terkembang sejak kita masih kanak-kanak dan remaja adalah kesempatan belajar berdoa kepada Bunda Maria. Pengalaman doa disekitar Bunda Maria seharusnya membuat kita terus-menerus mengalami kedekatan kita dengan Beliau, sama seperti ketika terjadi peristiwa “Yesus mengubah air menjadi anggur di pesta nikah Kanaan.” Kita juga mesti terbiasa meminta Bunda Maria untuk memintakan kepada Yesus agar hidup kita, yang terus-menerus mengalir seperti air yang sia-sia karena cepat kering setiap saat, dapat diubahNya menjadi anggur kehidupanNya. Mengapa kita tidak peka merasakan kesediaan Bunda Maria yang setiap saat dapat menghadirkan Yesus bagi kita. Dengan doa Salam Maria bisa kita alami betapa Bunda kita bersedia dan mampu membuat Yesus mengubah hidup kita menjadi hidupNya yang dekat selalu dengan Allah Bapa. Apalagi, jika permohonan kepada Bunda Maria itu disatukan dalam perasaan utuh kita melalui Litani Para Kudus.

Yang kedua, dibalik tabir kematian ternyata Tuhan hadir penuh kasih karena Dia tidak menghendaki kematian manusia. Tuhan justru hendak mewujudkan janjiNya, yaitu “memulihkan kehidupan kekal manusia.” Kenyataan pengalaman dibalik tabir kematian adalah kenyataan pengalaman “perasaan dekat denganNya yang terpenuhi secara utuh dan bersatu dalam KasihNya secara utuh pula.” Mengapa orang tidak tegas meyakini apa yang terjadi sesudah kematian sebagaimana dialami oleh Yesus.? Tidak pernah ada orang mati yang hidup kembali dan seterusnya hidup abadi sempurna adanya seperti Yesus. Itu semua terjadi sebagai bukti bahwa Allah telah dan terus-menerus memulihkan setiap manusia untuk mengalami hidup kekal. Tetapi, tentu saja pemenuhan janji serupa itu berlaku untuk gambaran hidup kekal yang bersih dari dosa. Dengan cara itu Tuhan telah memutus mata-rantai dosa yang mengakibatkan kematian manusia. Dengan dosanya manusia telah terpisah dari Allah dan menanggung kematian tanpa arah keabadian dalam hidup kekal. Dengan dosanya, manusia akan mati dalam keabadian api neraka dan jauh dari KasihNya. Sebaliknya, dengan kematiannya dalam Yesus, maka manusia akan mati juga tetapi dalam keabadian kasih Bapa. Keabadian kasih itu tidak akan memisahkan lagi manusia dari pencipta dan pencintanya yang Maha Agung.

Oleh karena itu, fakta kematian yang dihadapi dan harus dialami oleh setiap orang hendaknya menjadi fakta kematian dan kebangkitan Yesus dalam panggilan dirinya masing-masing. Penghayatan panggilan umat beriman melalui doa Salam Maria dan Litani Para Kudus memperkayakan penemuan fakta kematian yang indah itu. Mohonlah apa yang kamu minta dalam kematianmu, Tuhan pasti memberi. Masuklah segera bersama Bunda Maria dan Para Kudus dengan leluasa, walaupun pintunya sempit.

Surabaya, 17 April 2009

Sumber:

· Geoffrey Chapman. 1994. Cathechism of The Catholic Church. A Cassell Imprint Villiers House, London.

· Mateus 7: 7-14; Ibrani 9: 11-28

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s