Hidup Berkelimpahan untuk Kasih yang Terbuka

HIDUP BERKELIMPAHAN

Renungan Kedua: Hidup dalam Kasih yang Terbuka

Kehadiran Yesus ditengah umat manusia memberi hidup yang penuh berkat dan rahmat seperti dinyatakan dalam sabdaNya: Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. (Yoh 10:10). Hidup dalam segala kelimpahan yang diberikanNya itu tidak hanya berupa gelimang harta kekayaan dan kesejahteraan, tetapi kelimpahan itu meliputi “pemenuhan segala sesuatu yang berasal dari Allah BapaNya.” Segala sesuatu itu diberikan untuk memenuhi hidup manusia dengan kelimpahan rohani dan kesejahteraan setiap hari, termasuk anugerah panjang umur yang dihayati dengan ketekunan, keuletan, dan kesabaran dalam situasi apapun.

Pengalaman hidup berkelimpahan seperti tersebut di atas menjadi sangat berharga bagi umat kristiani, karena di sana kehadiran Yesus sebagai Gembala membuktikan kesetiaan Allah kepada umatnya. Kesetiaan Allah itu nampak dalam penyertaan dan pendampingan kegembalaan kepada umat Israel yang terpilih. Pendampingan-penggembalaan Yesus juga sama seperti yang dilakukan oleh semua utusan Allah seperti para nabi dan raja-raja Israel di masa lalu, dan yang seperti itu akan berlangsung terus sampai akhir jaman. Semua itu membuktikan bahwa Allah setia dalam perjanjianNya seperti yang dapat direnungkan kembali dari makna dasar hidup berkelimpahan dalam perjanjian lama. Banyak berkat dan rahmat diterima oleh umat Allah karena mereka memberikan jawaban dan tanggapan perjanjian Allah dengan setia pula seperti yang dilakukan dalam iman Abraham, kesetiaan Musa dan para Nabi yang lain, dan kearifan serta kebijaksanaan para raja Israel yang dengan setia menjaga umat Israel.

Dalam perjanjian baru, kelimpahan berkat dan rahmat dari Allah juga diterima oleh umat kristiani, terutama melalui babtisan. Oleh karena itu, sangat tidak masuk akal apabila seorang kristiani menguasai segala anugerah yang diterimanya sebagai miliknya sendiri tanpa peduli orang lain. Bagaimana mungkin hidup macam itu melupakan sabda Yesus yang mengatakan: Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya? (Yoh 10:11). Bukankah hidup kekristenan merupakan buah pengorbanan Yesus yang menyerahkan nyawanya menjadi tebusan atas dosa-dosa kita? Apakah ungkapan syukur dalam panggilan kristiani cukup untuk membalas pengorbananNya itu? Apakah hidup berbagi kepada sesama cukup menjadi ungkapan syukur kepadaNya? Apakah cukup apabila berbagi itu tidak menegaskan gambaran kedewasaan panggilan kristiani? Lalu, ukuran macam apakah yang seharusnya diterapkan untuk menakar kedewasaan pertumbuhan panggilan kristiani agar memadai untuk membalas jasa pengorbanan Yesus?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas, berikut ini disajikan kutipan Injil Mateus Bab 25: 31-46 dan renungan tentangnya. Jawabannya tidak lagi dicari-cari dari masalalu. Tetapi, kita sebagai murid Yesus diminta menjawabnya sebagai antisipasi dalam menyambut akhir jaman ketika bertemu kembali dengan Yesus pada penghakiman terakhir. Jawaban kita itu diminta serius menurut konteks kematian kita dan kedatangan Yesus yang menyambut kita sebagai domba atau kambing. Bahkan, di situ kita telah menyadari bahwa kita adalah sekedar “Hamba yang tak berguna” seperti yang pernah kita renungkan pada penutupan masa liturgi tahun 2015 (Surabaya, 22 Nopember 2015, Lukas 17: 7-10).

Berikut ini kutipan Injil Mateus menggambarkan bagaimana seharusnya keseriusan jawaban umat Allah seperti yang diharapkan oleh Tuhan Yesus pada saat Penghakiman Terakhir.

25:31 “Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya.

25:32 Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing,

25:33 dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya.

25:34 Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.

25:35 Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;

25:36 ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.

25:37 Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum?

25:38 Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian?

25:39 Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?

25:40 Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.

25:41 Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya.

25:42 Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum;

25:43 ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku.

25:44 Lalu merekapun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau?

25:45 Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.

25:46 Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.”

Ketika merenungkan bacaan tersebut di atas, seorang kristiani dihadapkan kepada gambaran hidup akhir jaman dengan penghakiman terakhir. Siksaan kekal mengancam apabila kita menjadi kambing dalam hidup yang tidak benar. Sebaliknya, kita boleh bergembira bila pada akhirnya kita menjalani hidup sebagai orang benar yang layak masuk kedalam hidup kekal sebagai domba di sisi kananNya. Dalam penghakiman terakhir itu pertanyaan-pertanyaan disekitar “ukuran untuk menakar kedewasaan pertumbuhan panggilan kristiani yang memadai untuk membalas jasa pengorbanan Yesus,” menjadi refleksi yang sangat serius dan mendesak. Karena akhir jaman itu bisa saja diartikan sebagai: Yesus datang kembali atau Hari Kiamat telah tiba atau saat kematian kita telah menjemput. Siap atau tidak siap kita harus memberikan jawaban tentang kedewasaan macam apa yang telah bertumbuh-kembang dalam mengikuti Yesus dan menjadi seorang kristiani. Hal itu terjadi kapan pun tanpa ada kesempatan tawar menawar.

Yesus memberikan jawaban tuntas untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas dalam sabdaNya, yaitu: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku (Yoh 25:45). Didalam sabdaNya itu, Yesus tidak menuntut kalkulasi jumlah besar maupun tingkat keikhlasan atau ketulusan-keterlibatan dalam berbagi ketika kita telah melakukan hal yang berharga untuk salah seorang dari yang paling hina itu. Bahkan kualitas hebat dari pemberian kita untuk berbagi pun tidak mencukupi, karena semua itu dihadapkan kepada takaran akhir jaman yang tidak bisa diulangi kembali.

Yang diminta Yesus adalah kesiapan-kesediaan total dari kita seperti ketika kita harus terlibat menyelami dan masuk kedalam kisah sengsara dan wafatNya. Kutipan tentang kambing dan domba pada penghakiman terakhir tersebut di atas dicatat oleh Mateus menurut konteks penderitaan dan pengorbanan Yesus menjelang hari-hari terakhir sebelum menjalani sengsara dan wafatNya. Keterlibatan umat kristiani untuk ikut menderita bersama Yesus dan kesediaan untuk dibentuk olehNya menjadi tumbal bagi sesama yang menderita, kedua hal itu yang dituntut dari kita untuk menjadi Alter Christi, yaitu dipanggil untuk menjadi “Kristus yang lain” dan hadir dalam hidup ini dengan kasih yang terbuka bagi sesama.

Tuntutan takaran kedewasaan panggilan seperti tersebut di atas seringkali mudah diabaikan. Karena, tuntutan itu tidak menghentak, sama seperti ketika kita seringkali melupakan pengorbanan Yesus yang dahsyat, terutama pada saat kita bergelimang kehidupan dalam berbagai kemudahan, kenikmatan dan kesejahteraan. Bahkan, seringkali kita terbiasa menghindari sakit dan kesusahan atau menolak penderitaan dengan cara apapun. Hal seperti itu seringkali terjadi ketika kita tidak tekun, kurang ulet, dan sangat tidak sabar dalam mengelola hidup bilamana dihadapkan kepada refleksi tantangan-tantangan hidup rohani. Yang kita pilih justru lebih suka dan nyaman untuk bekerja keras mencari untung yang segera bisa dinikmati. Kepedulian terhadap fokus kegiatan seringkali diabaikan, sebaliknya kita terbiasa untuk mengutamakan hasil dan prestasi instan atau sesaat. Hidup keseharian kita tidak mengijinkan untuk berlama-lama merenung tentang alasan-alasan dari suatu perbuatan, tetapi kita seringkali didesak tanpa sadar untuk segera bertindak dan melakukan sesuatu demi manfaat besar yang menjadi dambaan kita. Bahkan demi manfaat besar itu kita sering pula menghalalkan segala cara, termasuk cara-cara yang tidak etis, tidak manusiawi, tidak kristiani.

Dalam situasi hidup yang tidak menyentak kesadaran tobat seperti tersebut di atas karena hanya sibuk dengan diri sendiri, ternyata umat kristiani bisa terjebak dalam kebisuan yang tidak peka. Terutama ketika mereka harus menanggapi bisikan panggilan Yesus seperti yang terungkap dibalik sabdaNya berikut ini:

Yoh 10:14     Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku,

Yoh 10:15     sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku.

Panggilan kristiani berakar pada pengenalan akan Yesus seperti Dia mengenal BapaNya, dan seperti Bapa mengenal PuteraNya. Panggilan kristiani mengikuti ukuran takaran hubungan erat seperti Yesus mengalami cinta kasih BapaNya, dan seperti Yesus juga mencintai BapaNya sehabis-habisnya sampai mati di kayu salib.

Dapatkah kita berharap agar Yesus mengenal kita setiap saat dan mengharap Allah Bapa mengenal kita untuk memberikan Roh Kudus yang menguatkan kita, padahal kita tidak mengenalNya. Kita banyak mendengar sabdaNya tetapi tidak melakukan kehendakNya yang meminta kita menjadi pelayanNya. Permintaan apapun dariNya seringkali kita kalkulasi menurut ukuran kepentingan diri kita sendiri. Terlebih lagi kalkulasi itu sangat tidak masuk akal ketika kita memperjuangkan diri sendiri demi menghindari tuntutan pelayanan dan pengorbanan. Padahal, panggilan Yesus agar kita selalu mengenalNya sebagai Gembala itu memiliki tanda-tanda khas yang sangat indah walaupun serius dan total, yaitu:

  • Kita dipanggil untuk dibentuk menjadi penjelmaan solidaritas hidup Yesus bagi siapapun yang terpinggirkan atau paling hina, dengan cara mewujudkan solidaritas jemaat Kristiani yang berkarya bukan demi sesuatu yang legendaris-monumental dalam events sosial-amal melainkan demi karya-karya yang berjiwa sakramental, sehingga jemaat seperti itu tidak eksklusif melainkan inklusif dengan menyucikan hidup/karya dan menghadirkan rahmat-berkat Allah bagi mereka yang terpinggirkan dan paling hina,
  • Umat kristiani dikumpulkan menjadi himpunan domba yang dicintaiNya dengan pengorbanan nyawaNya agar mereka sanggup (akuntabel dan berintegritas) untuk menyediakan diri menjadi silih atau pengganti pelunasan atas kekurangan-ketidakberuntungan orang yang terpinggirkan dan mereka yang paling hina, bahkan menjadikan kita sebagai silih bagi kedosaan leluhur kita,
  • Orang perorangan dalam ikatan komunitas jemaat kristiani dipanggil menjadi alat Tuhan yang diutus untuk menyapa dan memberi penghiburan kasih bagi siapapun yang terpinggirkan dan paling hina di dunia ini seperti yang dilakukan oleh Bunda Santa Theresa dari Calcutta India,
  • Karya kita dalam mencintai sesama bukan sekedar pekerjaan sosial bagi-bagi bingkisan, tetapi karya kita disucikan oleh Allah dengan membentuk motivasi kita berbagi sebagai kesediaan terus-menerus menemukan Yesus di tengah orang yang terpinggirkan dan paling hina, lalu mengikutiNya dengan menyediakan diri menjadi alatNya yang menyapa dan menyentuh mereka dengan tekun, ulet, dan sabar,
  • Akhirnya kita dipanggil dalam panggilan yang sesuai dengan talenta dan nama kita masing-masing agar hidup kita menjadi persembahan berharga yang menghadirkan kegembiraan dan kebahagiaan bagi mereka yang terpinggirkan dan paling hina, karena persembahan seperti itu kita lakukan seperti janda miskin yang memberi dari kekurangannya (Luk 21:2-3); dan, oleh karena itu, bagaimanakah kita mengubah talenta yang serba kekurangan dalam diri kita menjadi alat penyembuh dan penghiburan yang dahsyat bagi sesama (Mat 18:25 dan Mat 25:15-28)?

Tanda-tanda khas yang sangat indah walaupun serius dari panggilan Yesus seperti tersebut di atas menunjukkan bahwa kita layak mengalami kembali panggilan Yesus yang dimulai dengan suatu keterbukaan. Adapun keterbukaan itu merupakan usaha kita secara sengaja dan sadar untuk mencari dan mengenali peran Roh Kudus yang menyempurnakan kepekaan kita terhadap bimbingan Allah. Dengan kasih Yesus yang melimpah bagi kita, selanjutnya kita menyediakan diri untuk selalu terbuka kepada bimbinganNya, terbuka untuk berlatih pembedaan roh, terbuka untuk memeluk tanggungjawab pelayanan dan rela berkorban tanpa penyesalan.

Bilamana berbagi harta kekayaan atau kesejahteraan tidak/kurang/belum dapat dilakukan, maka hal itu tidak perlu meniadakan kesungguhan kita dalam mengembangkan talenta lain-lain agar dipakai oleh Tuhan untuk menyelamatkan mereka yang terpinggirkan dan yang paling hina. Untung dan malang yang terjadi hanyalah dinamika atau pasang-surut kehidupan. Tetapi, kesia-siaan yang dilakukan ketika mengabaikan pengembangan talenta pengabdian dan pelayanan merupakan kehancuran kambing dihadapan Anak Manusia yang bersemayam di atas Tahta kemuliaanNya (Mateus 25:31-32).

T. Soemarman, Surabaya, 27 Februari 2016