TEMUAN SPIRITUALITAS

DARI RENUNGAN HARIAN

28 Agustus 2015

Tanya Yesus kepadanya: “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab orang buta itu: “Rabuni, supaya aku dapat melihat!”

Mrk 10:52 Lalu kata Yesus kepadanya: “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.

Terimakasih Tuhan hari ini aku melihat dibalik semua kekuranganku dan didalam pengalaman keberdosaanku ternyata kasih dan ampunanMu telah membuatku sadar akan janji hidup kekal yang boleh kumiliki kelak. Kesadaran itu telah Kautumbuhkan begitu saja sehingga aku melihat bahwa kekuranganku dan kepapaanku menjadi pintu masuk untuk menemukanMu sebagai harta berharga dalam perjalanan imanku sampai ke hidup kekal. Semoga imanku membawaku akrab denganMu selalu karena hanya kasihMu yang boleh kumiliki selamanya. Kemegahan, sukses, harta dunia, dan apapun hanya berharga jika semua itu dapat kualami dalam keterbukaan akan penglihatan kasih sayangMu selalu. Amin

Orang Buta mampu melihat setelah mengalami kehadiran Yesus yang lewat dekatnya. Keberanian imannya telah menyelamatkannya.

Selanjutnya ………………………………………

Kata orang “Kapankah Yesus lewat?” Adakah orang mengabarkan “Bagaimana Yesus tak hanya lewat tapi melawatiku, memanggilku, dan menyertakanku berkarya untuk kemuliaan Allah Bapanya?” Hanya Roh Kudus yang melakukan itu, karena dengan karya Roh itu sekaligus kepekaanku dalam kerinduan akan panggilanNya dapat dimampukan untuk bertemu dengan Yesus Putra Allah.

Temuan Rohani tanggal 29 Juli 2015

Sabda Injil hari ini berlaku bagi Saudariku Ibu Utiek istri dari Bapak Legowo. Ibu Utiek wafat pagi ini di RS Royal Rungkut Industri Surabaya. Santa Marta berkenanlah mendampingi ibu Utiek menghadap Yesus Tuhan kita yang berkuasa atas maut dan kematian. Semoga ibu Utiek mendapatkan pengampunan serta kebahagiaan kekal. Devosinya yang terakhir kalinya kepada Hati Kudus Yesus ketika memimpin doa novena Hati Kudus jumat pertama yang kedua untuk umat lingkungan Tomas I Paroki Roh Kudus Surabaya membawanya bersatu dengan Tuhan Yesus yang dikasihinya. Sesuai 12 janji Hati Kudus, nama Ibu Utiek dituliskan dalam Hati Yesus dan masuk ke hidup kekal bersamaNya. Dalam kematiannya hari ini ibu Utiek mewujudkan cintanya kepada Yesus seperti cinta santa Marta yang percaya akan Yesus Tuhan.

Yoh 11:19 Di situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya.

Yoh 11:20 Ketika Marta mendengar, bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah.

Yoh 11:21 Maka kata Marta kepada Yesus: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.

Yoh 11:22 Tetapi sekarangpun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya.”

Yoh 11:23 Kata Yesus kepada Marta: “Saudaramu akan bangkit.”

Yoh 11:24 Kata Marta kepada-Nya: “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman.”

Yoh 11:25 Jawab Yesus: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati,

Yoh 11:26 dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?”

Yoh 11:27 Jawab Marta: “Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia.”

Santa Marta bimbinglah ibu Utiek bersamamu dalam Yesus dan dalam kebangkitanNya!

Renungan tentang Wafatnya Ibu Benedicta Utiek Utaro Utami:

Mengapa nama beliau Ibu Utiek tertulis di Hati Yesus yang Mahakudus?

Jawabannya: Seperti Marta maka Ibu Utiek nampak mengalami perjumpaan dengan Yesus menjelang detik2 kematian Ibu Utiek. Di situ beliau mengungkapkan kegelisahannya dalam keadaan kesakitan yang dideritanya sambil mengatakan:

Yoh 11:21 Maka kata Marta kepada Yesus: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.

Yoh 11:22 Tetapi sekarangpun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya.”

Yoh 11:23 Kata Yesus kepada Marta: “Saudaramu akan bangkit.”

Yoh 11:24 Kata Marta kepada-Nya: “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman.”

Yoh 11:25 Jawab Yesus: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati,

Yoh 11:26 dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?”

Yoh 11:27 Jawab Marta: “Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia.”

Ibu Utiek mengalami pergumulan “apakah aku harus mati sekarang?” Akhirnya Ibu Utiek menyerah: “Aku percaya bahwa Engkau Ya Yesus akan meminta kepada BapaMu apa yang terbaik bagiku termasuk jika harus mati dalam keadaan sakit kali ini”

Dalam kematiannya seperti itu Ibu Utiek telah meninggalkan kita semua agar dari kematiannya itu dapat kita warisi imannya akan keselamatan hidup kekal yang diterimanya dari Yesus sang Mesias:

Yoh 11:27 Jawab Marta: “Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia.”

Ungkapan Santa Marta itu menjadi ungkapan iman Ibu Utiek yang wafat pada hari Pesta Santa Marta Rabu 29 Juli 2015. Sejak hari kematiannya itu maka iman akan keselamatan kekal yang datang dari Yesus diwariskan kepada kita.

Mungkin kita belum sempat mendampingi putra-i kita dalam perkawinan mereka. Mungkin kita tidak pernah akan ikut menimang cucu-cucu kita. Tetapi, kehadiran Yesus yang kenanganNya kita wariskan akan menjadi harta berharga buat anak cucu. Selamat jalan Ibu tersayang dan doa kami menyertaimu. Bantulah kami dari surgamu yang indah bersama Allah Bapa. Amin

CAHAYA TERANG PANGGILAN HIDUP – 9 JUNI 2015

Mat 5:16 Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

Manusia dipanggil oleh Allah untuk “menjadi terang yang bercahaya bagi sesama.” Panggilan itu mendorong kita untuk berbuat baik demi kebaikan itu sendiri. Pamrih atau upah atau kepentingan diri kita ketika melakukan perbuatan baik dalam panggilan itu tidak diperlukan. Mencari jalan untuk berbuat baik dan mewujudkan perbuatan baik semata-mata terdorong oleh panggilan untuk memuliakan Allah Bapa di Surga. Didalam perbuatan baik yang dilakukan demi kebaikan itu sendiri justru mengantar orang lain untuk bergabung dalam memuliakan Allah. Kita dan mereka akan selalu mengumandangkan kebanggaan doa: Ad maiorem Dei Gloriam.

Melakukan perbuatan baik sebagai panggilan seperti tersebut di atas tidak perlu gelisah dan khawatir akan hasilnya atau upahnya. Allah Bapa telah memberikan jaminan untuk itu dalam Yesus Kristus PuteraNya. Santo Paulus bahkan secara total meyakini hal itu seperti diwartakan sebagai berikut:

2Kor 1:20 Sebab Kristus adalah “ya” bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan “Amin” untuk memuliakan Allah.

2Kor 1:21 Sebab Dia yang telah meneguhkan kami bersama-sama dengan kamu di dalam Kristus, adalah Allah yang telah mengurapi,

2Kor 1:22 memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita.

Doa hari ini:

Ya Tuhan jadikanlah aku terang yang berguna dalam setiap karyaMu bagi sesama pada hari-hari ini termasuk kelak jika aku telah Kaupanggil dalam kehidupan kekal. Aku rela dan bersedia untuk hidup selalu mengalami kebersamaan dengan Yesus PuteraMu pada saat kedatanganNya kembali pada akhir jaman.

JANGAN GELISAH, ALLAH MENGGENAPI HIDUPMU – 7 JUNI 2015

Doamu pasti dikabulkan karena Yesus menjamin permohonanmu. Bahkan Yesus menjamin ‘kehidupan kekal’ bagi manusia yang percaya kepadaNya.

Janji Allah kepada manusia telah digenapi dalam kematian dan kebangkitan Yesus sebagaimana diimani oleh para murid. Seharusnya pemenuhan seperti itu menjadi penghiburan yang sangat berharga bagi manusia. Di situ manusia dapat mensyukuri anugerah “kesukaan” misteri paskah, yang memberikan kedamaian batin dan ketenangan hidup. Sesuai kesaksian para murid yang mengikuti Yesus dari Galilea ke Yerusalem sesudah kebangkitanNya, Paulus memberitakan hal itu dengan berkata: “Tetapi Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati. Dan selama beberapa waktu Ia menampakkan diri kepada mereka yang mengikuti Dia dari Galilea ke Yerusalem. Mereka itulah yang sekarang menjadi saksi-Nya bagi umat ini. Dan kami sekarang memberitakan kabar kesukaan kepada kamu, yaitu bahwa janji yang diberikan kepada nenek moyang kita, telah digenapi Allah kepada kita, keturunan mereka, dengan membangkitkan Yesus, seperti yang ada tertulis dalam mazmur kedua: Anak-Ku Engkau! Aku telah memperanakkan Engkau pada hari ini” (Kis 13: 30-33).

Bagaimanakah penggenapan janji Allah seperti diberitakan oleh Paulus itu berlaku bagi manusia masakini? Bagaimana mungkin iman akan pemenuhan janji Allah itu dapat dirasakan sebagai anugerah “kesukaan” yang berharga ketika manusia mengalami banyak kesulitan hidup dan seolah permohonan-permohonannya tidak kunjung dipenuhi? Sementara itu penderitaan hidup ini dan kegelisahan batin terus berlangsung bagi sejumlah orang.
Kutipan berikut ini dapat direnungkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas:

Yoh 14:1 “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.

Yoh 14:2 Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.

Yoh 14:3 Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.

Yoh 14:4 Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.”

Yoh 14:5 Kata Tomas kepada-Nya: “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?”

Yoh 14:6 Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

Sabda Yesus yang meyakinkan pendengarNya “Janganlah gelisah hatimu” diucapkan dengan wibawa khusus, karena hal itu disampaikanNya setelah kebangkitanNya. Di situ Yesus sangat meyakinkan karena Dia telah melihat BapaNya sesudah bangkit dari kuburNya. Sehingga tempat tinggal di surga dan hidup bersama Allah Bapa telah dirintis dan disediakan oleh Yesus yang bangkit itu. Dengan kepastian jaminan itu, perjalanan hidup manusia, saat ini sampai kelak dibangkitkan dari kematian dan hidup kekal bersama Allah, juga telah dijamin oleh Yesus. Jaminan itu telah terwujud dan akan terus diwujudkan walaupun manusia masih bimbang dan dipenuhi keraguan seperti yang dialami oleh Tomas: “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” (Yoh 14:5).

Kegelisahan dan kebimbangan itu boleh saja terjadi, khususnya untuk jenis kegelisahan dan kebimbangan yang berwarna “ketidaktahuan tentang apa yang Tuhan kehendaki ketika permohonan-permohonan manusia akan dikabulkan atau tidak dipenuhi.” Tetapi, manusia tidak boleh memeluk kegelisahan dan kebimbangan yang berwarna tidak mempercayai kuasa Yesus dalam kebersamaan dengan Allah BapaNya.
Belajar seperti Tomas yang (saat itu) belum tahu bahwa Yesus telah melihat BapaNya sesudah kebangkitanNya, maka wajar bahwa manusia seringkali tidak peka dalam memahami kehendak Allah. Tetapi, ketika manusia telah diyakinkan oleh pengalaman iman akan gambaran pencerahan tentang kebersamaan Yesus dengan Allah BapaNya setelah kebangkitanNya, maka manusia seharusnya dapat menerjemahkan pertanyaan “jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” untuk kehidupannya didunia saat ini sampai kepada kehidupan kekal.

Fakta penghapusan derita manusia atau terkabulnya doa-doa mereka dapat dipahami menurut perspektif pemenuhan janji Allah, yaitu “semuanya itu seharusnya menjadi jalan untuk memahami panggilan unik manusia dihadapan Allah.” Apakah pentingnya ketika derita terhapus atau berlalu? Apakah pentingnya ketika doa-doa terkabul? Bagaimanakah kehendak Allah dibalik semua itu? Apa yang Tuhan kehendaki ketika derita terhapus atau tetap tinggal? Apa yang Tuhan mau tentang jatidiri manusia ketika doa mereka dikabulkan atau tidak kunjung dipenuhi? Bukankah dibalik semua itu manusia mendapat tawaran dari Yesus untuk mengalami kebersamaanNya dengan Allah Bapa di surga dan di dunia ini. Pengalaman kebersaman seperti itu seharusnya menjadi jaminan bagi manusia untuk tidak gelisah dan bimbang dalam hidup ini. Dalam kebersamaan seperti itu setiap saat Tuhan berbisik bahwa manusia boleh menjalin hubungan dengan Yesus dan Allah Bapa setiap saat dalam keadaan apapun. Cinta keputraan (filial love) dan cinta keBapaan, serentak keduanya boleh dialami oleh manusia dibalik ungkapan yang dikutip oleh Paulus: “…… seperti yang ada tertulis dalam mazmur kedua: Anak-Ku Engkau! Aku telah memperanakkan Engkau pada hari ini” (Kis 13: 33).

Dengan pengalaman iman tersebut di atas, aku berdoa:

Tuhanku Yesus Kristus ijinkanlah aku selalu bersamaMu karena Engkau adalah jalan, kebenaran, dan hidup. Jadikanlah perjalanan dan penderitaan hidupku menjadi bagian dari perjalanan, kebenaran, dan hidupMu. Karena aku percaya hanya melalui Engkau saja aku dapat datang kepada BapaMu. Tambahkanlah iman kepadaku. Pertegaslah panggilan khusus yang Engkau kehendaki bagiku saat ini dan seterusnya.

Untuk permohonan-permohonanku ijinkanlah aku mempersembahkannya melalui perantaraan BundaMu yang kudus dalam setiap ekaristi yang Engkau selenggarakan bagiku. Tambahkanlah harapan hidupku melalui cintaku kepada Hati KudusMu ya Yesus, agar pada saat Engkau mengabulkan permohonan-permohohanku maka pada saat itu pula aku peka dan tanggap akan panggilan khusus yang hendak Kau bentuk dalam hidupku selanjutnya. Permohonan-permohonan duniawiku sangat kecil dibandingkan kepastian janjiMu yang menyediakan tempat tinggal di surga bersama BapaMu. Aku percaya Dikau juga tidak mengabaikan permohonan duniawiku itu. Amin.

Selanjutnya, pengalaman kebersamaan didalam Allah Bapa ternyata dapat semakin mendalam dialami ketika misteri kenaikan Tuhan Yesus dan misteri Kedatangan Roh Kudus dapat dicerna dalam pengalaman rohani yang semakin sempurna. Pengalaman seperti itu terjadi hanya oleh kemurahan Tuhan sendiri yang mengijinkan manusia untuk menyelaminya.

PENCERAHAN MASALALU KE MASADEPAN – 24 MARET 2015

Turn around but do not reverse …..Find out and discover God’s Greatest Love in the suffering of Jesus …… Discover that kind of Love in the past and in the future forever more ……

Penelusuran masalalu tidak harus menjadikan seseorang kembali menjalani kehidupan masalalunya. Penelusuran itu tidak juga untuk mengulangi masalalu termasuk mengulangi kebaikan-kebaikannya. Tetapi, penelusuran itu harus menjadi langkah berputar dan bukan putar-balik, yaitu langkah berputar untuk menyelami pertobatan yang semakin mendalam.

Diantara onak duri dan biji yang harus mati terdapat celah gelap yang bersinarkan cahaya cinta Allah yang tersembunyi. Cinta itu memanggil ke pertobatan yang semakin sempurna. Pertobatan penuh pasrah karena percaya akan kebesaran CintaNya selalu. Kesempurnaan itu perlu ditelusuri dan dipeluk semain mendalam, karena Allah sungguh mengampuni dan membawanya ke sisinya yang abadi.

PERCAYA AKAN YESUS YANG MEMAHAMI HIDUP KITA – 7 JANUARI 2015

Betapa Yesus memahami kesulitan hidup ini dengan kehadiranNya yang sangat peduli:

“Mrk 6:48 Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka.

Mrk 6:49 Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia adalah hantu, lalu mereka berteriak-teriak,

Mrk 6:50 sebab mereka semua melihat Dia dan merekapun sangat terkejut. Tetapi segera Ia berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”

Mrk 6:51 Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan anginpun redalah. Mereka sangat tercengang dan bingung,

Mrk 6:52 sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil.”

Mendayung sampan kehidupan dengan angin sakal merupakan tantangan yang membuat seseorang merasa payah. Tuhan Yesus melihat betapa payahnya perjuangan itu. Tetapi, Ia datang dan membuat mereka tercengang dan bingung karena Yesus memasuki perjuangan hidup itu dan mendapatkan mereka dan anginpun redalah.

Semoga aku semakin mengerti maksud kepedulian Yesus dan berharap agar hati ini tidak degil, melainkan tanggap dan pasrah kepadaNya

IMAN EPIFANI – 5 JANUARI 2015

Pencerahan Iman Epifani: Tuhan Yesus lahir bagi manusia. KelahiranNya itu menjadi tindakan dahsyat dari Allah untuk memberikan pencerahan. Bintang kejora telah menjadi tanda pencerahan itu. Sehingga, siapapun seperti tiga raja dapat tergerak mencari kehadiranNya dan mempersembahkan yang terbaik bagiNya. Seharusnya hidup ini dihayati sebagai pengalaman pencerahan akan kehadiranNya yang membimbing kepada hidup kekal. Perjalanan hidup dapat dirasakan sebagai gerakan dahsyat panggilanNya yang menyempurnakan peraembahan hidup manusia menuju hidup bahagia selamanya bersamaNya di surga abadi.

Tuhanku, terimakasihku tak terhingga karena Engkau senantiasa memuaskan kerinduanku untuk mengalami kasihMu yang mencerahkan selalu. Epifani itu kini menjadi milikku yang sangat berharga.

Pencerahan Iman Epifani adalah pencerahan yang datang dari Allah. Pencerahan itu menjadi jawaban atas kerinduan kepadaNya. Terutama kerinduan akan kelegaan berkat pengampunanNya. Kelegaan itu meluap menjadi rasa syukur karena boleh berharap kembali untuk mengetahui naksud bimbinganNya. Semoga bimbingan itu menuntun untuk beristirahat bersamaNya dimanapun dan kapanpun. Amin

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s